Jumat, 01 April 2016

SAP 13 : Rasio likuiditas dan Modal Kerja


ANALISIS INFORMASI KEUANGAN
SAP 13 : Rasio likuiditas dan Modal Kerja


1.         LIKUIDITAS (RASIO LIKUIDITAS) DAN MODAL KERJA
1.1.      LIKUIDITAS (RASIO LIKUIDITAS)
Rasio Likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek. Rasio yang umumnya digunakan dalam mengukur tingkat likuiditas adalah:
1.1.1.      Rasio lancar (current ratio)
yaitu kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. Rumus rasio lancar adalah aktiva lancar dibagi kewajiban lancar. Semakin tinggi rasio lancar seharusnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Tetapi rasio lancar yang terlalu tinggi juga menunjukkan manajemen yang buruk atas sumber likuiditas. Kelebihan dalam aktiva lancar seharusnya digunakan untuk membayar dividen, membayar hutang jangka panjang atau untuk investasi yang bisa menghasilkan tingkat pengembalian lebih. Dalam melihat rasio lancar, analisis juga harus memperhatikan kondisi dan lingkungan perusahaan seperti rencana manajemen, sektor industri, dan kondisi makro ekonomi secara umum.
Current Ratio =
1.1.2.      Quick test ratio (QTR)
yaitu kemampuan aktiva lancar minus persediaan untuk membayar kewajiban lancar. Rasio ini memberikan indikator yang lebih baik dalam melihat likuiditas perusahaan dibandingkan dengan rasio lancar, karena penghilangan unsure persediaan dan pembayaran di muka serta aktiva yang kurang lancar dari perhitungan rasio. Rumusnya adalah :


Quick Ratio  =
1.1.3.      Cash Ratio
mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo dengan kas yang dimiliki. Rumusnya adalah :
Cash Ratio  =

1.2.   MODAL KERJA
Modal Kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap jangka pendek” (Djarwanto, 2005; 87).
Dari kedua definisi di atas, menunjukan bahwa modal kerja adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan yang dipergunakan juga untuk operasi perusahaan tersebut. Di bawah ini diterangkan tiga konsep dasar atau definisi dari modal kerja menurut (S. Munawir, 2007, 114-116) yaitu

1.2.1.      Menurut Riyanto (2001:57-58) bahwa konsep modal kerja terbagi atas tiga konsep yaitu:
a.       Konsep Kuantitatif (Gross Working Capital)
Konsep ini tidak mementingkan kualitas modal kerja, yang dibiayai dengan setoran saham pemilik atau yang berasal dari hutang lancar maupun jangka panjang sehingga modal kerja yang besar belum tentu menjamin kelangsungan operasi perusahaan. Dalam konsep ini disebut modal kerja bruto (gross working capital).
b.      Konsep Kualitatif (Net Working Capital)
Pada konsep kualitatif tidak menitikberatkan pada kuantitas jumlah aktiva lancar atau modal kerja bruto, akan tetapi pada konsep kualitatif pengertian modal kerja adalah modal kerja netto (net working capital) jadi modal kerja yang hanya dikaitkan dengan besarnya jumlah hutang lancar dan hutang jangka panjang yang akan dibayar pada periode tersebut, dengan demikian sebagian dan jumlah aktiva lancar harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Definisi konsep ini menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari pada hutang lancar.
c.       Konsep Fungsional (Functional Working Capital)
Konsep ini menitikberatkan pada hasil usaha perusahaan yang berbentuk pendapatan (income) dari usaha pokok perusahaan. Setiap dana yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan, tetapi ada pula dana modal kerja yang digunakan periode ini tidak langsung dapat memberikan penghasilan bagi perusahaan pada periode ini, akan tetapi dari dana yang digunakan tersebut akan memberi penghasilan kepada perusahaan di waktu mendatang (future income) sehingga besarnya modal kerja adalah:
·         Besarnya kas
·         Besarnya persediaan
·          Besarnya piutang (dikurangi besarnya laba)
·         Besarnya sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap (besarnya adalah sejumlah dana yang berfungsi untuk menghasilkan current income tahun yang bersangkutan).
Sedangkan bagian piutang yang merupakan keuntungan adalah tergolong dalam modal kerja potensial dan sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap yang menghasilkan future income (pendapatan tahun-tahun sesudahnya) termasuk dalam non working capital.

1.2.2.         Jenis-jenis Modal Kerja
Menurut Riyanto (2001:61) modal kerja dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu:
a.       Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Modal kerja permanen merupakan modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Permanent Working Capital ini dapat dibedakan dalam:
·         Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)Modal kerja primer adalah jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
·         Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)Modal kerja normal adalah jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luasnya persediaan produk yang normal atau dinamis, luasnya produk mengikuti jumlah penjualan produk pada perusahaan.

b.      Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)Modal kerja variabel merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perolehan keadaan dan modal kerja ini dibedakan antara lain:
·         Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital) Modal kerja musiman adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah yang disebabkan oleh fluktuasi musim.
·         Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital ) Modal kerja siklis adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah yang disebabkan oleh fluktuasi konjungtur.
·         Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital) Modal kerja darurat adalah modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya pemogokan karyawan, banjir, perubahan ekonomi yang mendadak dan lain-lain. Menurut Halim (2002:89-92) menyatakan bahwa besar kecilnya kebutuhan modal kerja tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah:
1.      Volume penjualan
Faktor ini adalah faktor yang paling utama, karena perusahaan memerlukan modal kerja untuk menjalankan aktivitasnya di mana puncak dari aktivitas penjualan, dari ini perusahaan bisa mengukur efektif dan efisiennya perkembangan pada karyawan dan perusahaan.
2.      Pengaruh musim
Musim dapat mempengaruhi permintaan dari barang, maka penjualan akan berfluktuasi dan fluktuasi penjualan akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan jumlah kebutuhan modal kerja dan inilah yang menimbulkan adanya modal kerja variabel.
3.      Perubahan teknologi
Perkembangan teknologi terutama yang berhubungan dengan proses produksi dapat mempunyai pengaruh yang tajam terhadap kebutuhan modal kerja.
4.      Kebijakan-kebijakan perusahaan
Beberapa kebijakan perusahaan yang diambil dapat mempengaruhi tingkat modal kerja baik permanen ataupun variabel. Jika perusahaan mengubah kebijakan kredit net 30 menjadi net 60, maka tambahan dana permanen mungkin terikat pada piutang. Jika perusahaan mengubah kebijakan produksi mungkin akan mempengaruhi kebutuhan persediaan. Perubahan tingkat minimum kas mungkin akan menaikkan atau menurunkan modal kerja.

2.        ANALISIS LIKUIDITAS BERDASARKAN AKTIVITAS OPERASI
Ukuran likuiditas berdasarkan aktivitas operasi penting dalam analisis kredit. Bagian ini membahas tiga langkah aktivitas operasi berbasis pada piutang, persediaan, dan kewajiban lancar.
2.1.      Aktivitas Operasi Berbasis Pada Piutang
2.1.1.   Ukuran Likuiditas Piutang Usaha
Bagi kebanyakan perusahaan menjual secara kredit, rekening dan wesel tagih merupakan bagian penting dari modal kerja . Dalam menilai likuiditas , termasuk kualitas modal kerja dan rasio lancar , maka perlu untuk mengukur kualitas dan likuiditas piutang. Baik kualitas dan likuiditas piutang dipengaruhi oleh tingkat turnover mereka. Kualitas mengacu pada kemungkinan penagihan tanpa kehilangan. Pengalaman menunjukkan bahwa piutang yang lama beredar di luar tanggal jatuh tempo mereka , semakin rendah kemungkinan ditagih. Tingkat turnover mereka merupakan indikator umur piutang. Indikator ini sangat berguna bila dibandingkan dengan tingkat turnover yang diharapkan dihitung dengan menggunakan persyaratan kredit yang diijinkan. Likuiditas mengacu pada kecepatan dalam mengkonversi piutang menjadi kas. Tingkat perputaran piutang adalah ukuran kecepatan ini.
2.1.2.   Perputaran Piutang usaha
rasio perputaran piutang usaha dihitung sebagai berikut:
Piutang dari penjualan normal harus dimasukkan ketika menghitung perputaran piutang . Rasio ini hanya mencakup penjualan kredit karena penjualan tunai tidak menciptakan piutang . Tetapi jika penjualan kredit tidak diketahui jumlah pastinya, maka dapat menggunakan total penjualan bersih ( yaitu, dengan asumsi penjualan tunai tidak signifikan ). Jika penjualan tunai signifikan, maka rasio ini kurang berguna . Namun, jika proporsi penjualan tunai terhadap total penjualan relatif stabil , maka tahun - ke - tahun perbandingan perubahan dalam rasio perputaran piutang dapat diandalkan. Cara yang paling langsung bagi kita untuk menentukan piutang rata-rata piutang adalah dengan menambahkan awal dan akhir piutang untuk periode dan dibagi dengan dua . Menggunakan angka bulanan atau kuartalan menghasilkan perkiraan yang lebih akurat . Semakin penjualan berfluktuasi , semakin besar kemungkinan rasio ini terdistorsi . Rasio perputaran piutang menunjukkan seberapa sering , rata-rata , piutang berputar - yaitu , yang diterima dan dikumpulkan selama setahun.
Ilustrasi 10.5 memberikan contoh .
2.1.3.      Jumlah hari dalam Menagih Piutang
Meskipun rasio perputaran piutang usaha mengukur kecepatan penagihan dan berguna untuk tujuan perbandingan, tidak langsung dibandingkan dengan kondisi perdagangan perusahaan yang ke pelanggan. Perbandingan ini dibuat dengan mengubah rasio perputaran menjadi hari untuk menagih piutang. Jumlah hari penagihan piutang adalah jumlah hari yang dibutuhkan, secara rata-rata, untuk menagih piutang berdasarkan saldo akhir tahun piutang. Hal ini dihitung dengan membagi piutang dengan rata-rata penjualan harian sebagai berikut:
2.1.4.      Interpretasi Ukuran Likuiditas Piutang
            tingkat perputaran piutang dan periode penagihan akan berguna dibandingkan dengan rata-rata industri atau dengan perjanjian kredit yang diberikan oleh perusahaan. Ketika periode penagihan dibandingkan dengan perjanjian penjualan yang diperbolehkan oleh perusahaan, kita dapat menilai sejauh mana pelanggan yang membayar tepat waktu. Misalnya, jika perjanjian kredit biasa dijual 40 hari, maka periode pengumpulan piutang dari 75 hari mencerminkan satu atau lebih dari kondisi berikut:
a.       Usaha penagihan yang buruk
b.      Keterlambatan pembayaran pelanggan.
c.       Pelanggan dalam kesulitan keuangan
Kondisi pertama menuntut tindakan korektif manajerial, sementara dua lainnya merefleksikan kualitas dan likuiditas piutang dan menuntut tindakan manajerial yang bijaksana. Langkah awal adalah untuk menentukan apakah piutang mewakili aktivitas penjualan perusahaan. Sebagai contoh, piutang dapat dijual kepada SPE dan, jika SPE ini terstruktur dengan baik, piutang akan dihapus dari buku. sementara penjualan piutang mungkin, oleh karena itu, mendistorsi perhitungan rasio. Hal ini tidak biasa bagi perusahaan untuk terus melayani akun untuk SPE. Dalam hal ini jumlah total piutang servis disediakan dalam catatan kaki. Ini dapat ditambahkan dengan yang dilaporkan di neraca untuk tiba di total piutang yang beredar. Rasio perputaran kemudian dihitung dengan menggunakan total piutang yang beredar.
2.2.      Aktivitas Operasi Berbasis Pada Persediaan
2.2.1.      Ukuran Perputaran Persediaan
Persediaan sering merupakan bagian penting dari aktiva lancar. Alasan untuk ini sering tidak ada hubungannya dengan kebutuhan perusahaan untuk mempertahankan dana cair yang memadai . Persediaan adalah investasi yang dilakukan untuk tujuan memperoleh kembali melalui penjualan kepada pelanggan. Pada kebanyakan perusahaan , tingkat tertentu persediaan harus disimpan . Jika persediaan tidak memadai, volume penjualan menurun di bawah tingkat yang dapat dicapai . Sebaliknya, persediaan yang berlebihan mengekspos perusahaan untuk biaya penyimpanan , asuransi , pajak , usang ,dan kerusakan fisik. Persediaan berlebihan juga mengikat dana yang dapat digunakan lebih menguntungkan di tempat lain. Karena risiko dalam menyimpan persediaan, dan mengingat bahwa persediaan selanjutnya dihapus dari kas dari piutang tersebut, mereka biasanya dianggap sebagai aset lancar yang paling tidak likuid .
2.2.2.      Perputaran Persediaan
Rasio perputaran persediaan mengukur rata-rata kecepatan di mana persediaan bergerak melalui dan keluar dari perusahaan. Perputaran persediaan dihitung sebagai berikut:
Agar Konsistensi mengharuskan kita menggunakan harga pokok penjualan dalam pembilang karena, seperti persediaan, dilaporkan biaya. Jumlah, sebaliknya, termasuk margin keuntungan. Rata-rata persediaan dihitung dengan menambahkan awal dan akhir saldo persediaan, dan membaginya dengan dua. Perhitungan rata-rata ini dapat disempurnakan dengan rata-rata angka persediaan triwulanan atau bulanan. Ketika kita tertarik dalam mengevaluasi tingkat persediaan pada tanggal tertentu, seperti akhir tahun, kita menghitung rasio perputaran persediaan dengan menggunakan saldo persediaan pada tanggal tersebut di penyebut.
2.2.3.      Jumlah hari Penjualan dalam Persediaan
Ukuran lain perputaran persediaan berguna dalam menilai pembelian dan produksi kebijakan perusahaan adalah jumlah hari penjualan dalam persediaan, dihitung sebagai berikut:
Rasio ini memberitahu kita adalah jumlah hari yang diperlukan untuk menjual persediaan akhir dengan asumsi tingkat tertentu penjualan. Ilustrasi 10.6 memberikan contoh.

2.2.4.      Interpretasi Perputaran Persediaan
Rasio lancar memperlihatkan komponen aktiva lancar sebagai sumber dana untuk berpotensi melunasi kewajiban lancar. Dilihat dari pandangan sama, rasio perputaran persediaan memberikan ukuran kualitas dan likuiditas komponen persediaan aktiva lancar. Kualitas persediaan mengacu pada kemampuan perusahaan untuk menggunakan dan membuang persediaan. Kita harus mengakui, bagaimanapun, bahwa perusahaan terus tidak menggunakan persediaan untuk membayar kewajiban lancar karena setiap penurunan serius dalam tingkat persediaan yang normal mungkin memotong ke volume penjualan.
Ketika perputaran persediaan menurun dari waktu ke waktu, atau kurang dari angka industri, ini menunjukkan bergerak lambat persediaan dikaitkan keusangan, permintaan yang lemah, atau tidak terjual. Kondisi ini mempertanyakan kelayakan sebuah perusahaan pemulihan biaya persediaan. Kita perlu analisis lebih lanjut dalam hal ini untuk melihat apakah penurunan perputaran persediaan adalah karena penumpukan persediaan untuk mengantisipasi peningkatan penjualan, komitmen kontrak, kenaikan harga, penghentian kerja, kekurangan persediaan, atau alasan yang sah lainnya. Kita juga harus menyadari manajemen persediaan (seperti just-in-time sistem) yang bertujuan untuk menjaga tingkat persediaan yang rendah dengan mengintegrasikan memesan, memproduksi, menjual, dan mendistribusikan. Manajemen persediaan yang efektif meningkatkan perputaran persediaan.
Berguna persediaan mengukur likuiditas lainnya adalah periode konversi atau siklus operasi. Ukuran ini menggabungkan periode penagihan piutang dengan hari untuk menjual persediaan untuk mendapatkan interval waktu untuk mengkonversi persediaan uang tunai. Menggunakan hasil dihitung dari dua ilustrasi independen kami di atas, kami akan menghitung periode konversi sebagai berikut:
Ini berarti yang dibutuhkan 195 hari bagi perusahaan untuk menjual persediaan dan untuk menagih piutang, berdasarkan tingkat lancar piutang dan persediaan.
3.      UKURAN LIKUIDITAS LAINNYA
Analisis Rasio adalah evaluasi atas hubungan yang terjadi antara berbagai variabel dalm laporan keuangan. Perusahaan dapat menilai karakteristik keungannya dengan membandingkan antara rasio keuangan yang dimilikinya dengan rasio keuangan perusahaan-perusahaan lainnya dalam industri yang sama.
Rasio-rasio keuangan biasanya diklasifikasikan menurutkrakteristik-karakteristik yang mejadi ukura. Karakteristik tersebut antara lain :
3.1.      Ukuran Likuiditas
Likuiditas (Liquidity) mengacu pada keampuan sebuah perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Kebanyakan ukuran liquiditas membandingkan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Semakin besar tingkat aktiva lancar yang tersedia secara relatif terhadap kewajiban lancar, maka semakin besar likuiditas perusahaan.
a.      Rasio Lancar
Membaningkan aktiva lancar dengan kewajiban lancar dalam bentuk rasio. Dinyatakan dengan :

            Rasio Lancar              =   Aktiva Lancar
                                                                Kewajiban Lancar
b.      Rasio Cepat
Tidak memasukkan persediaan sebagai bagian dari pembilang, rasio ini menjadi lebih kecil dari dari pada rasio lancar bagi semua perusahaan yang memiliki persediaan.

Rasio Lancar                 = Kas+Sekuritas yang dapat diperjual belikan+Piutang Usaha
                                                                                    Kewajiban Lancar

3.2.      Ukuran Efisiensi
Rasio-rasio efisiensi mengukur seberapa efisien perusahaan telah mengelola aktiva-aktivanya. Dua rasio efisiensi yang populer:
a.      Perputaran Persediaan
Tingkat persediaan yang terlalu rendah juga tidak menguntungkan karena mengakibatkan kekurangan pasokan, yang juga mengurangi penjualan.

Perputaran Persediaan             = Harga Pokok Penjualan
                                                                        Persediaan
b.      Perputaran Aktiva
Perusahaan yang memiliki aktiva yang berlebihan berarti telah menginvestasikan modalnya dengan tidak bijaksana. Perusahaan lebih menyukai mendukung tingkat penjualan yang tinggi dengan jumlah aktiva yang relatif rendah sehingga artinya perusahaan dapat memanfaatkan aktiva yang telah diinvestasikan secara efektif.
Perputaran Aktiva                     =          Penjualan Bersih
                                                                       
Total Aktiva

3.3.      Ukuran Pengungkit Keuangan
Pengugkit (laverage) keuangan mencerminkan tingkat sejauh mana perusahaan mengunakan dana pinjaman untuk mendanai aktiva-aktivanya. Perusahaan yang meminjam sebagian besar modalnya memiliki tingkat laverage keuangan yang tinggi. Perusahaan yang dengan tingkat laverage keuangan tinggi akan menanggung biaya pendanaan tetap yang tinggi (beban bunga) yang harus dibayar tanpa melihat tingkat penjualan yang dihasilkan perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini memiliki kemungkinan lebih besar mengalami masalah dalam pelunasan utang-utangnya dan oleh sebab itu dinggap sebagai perusahaan yang memiliki resiko tinggi.

Rasio Utang Terhadap Ekuitas(debt-to-equity-ratio)
                        =          Utang Jangka Panjang
                                    Ekuitas Pemilik
a.      Kelipatan Pembayaran Bunga (time interest earned ratio)
Mengatur kemampuan perusahaan untuk menutup pembayaran bunganya. Jika sebuah perusahaan memiliki tingkat laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang rendah relatif terhadap besarnya beban bunga, penurunan sejumlah kecil EBIT di masa depan dapat memaksa perusahaan gagal membayar bebanya.

Kelipatan Pembayaran Bunga             = Laba sebelum Bunga dan Pajak (EBIT)
                                                                                    Beban Bunga Tahunan

3.4.      Ukuran Profitabilitas
Ukuran Profitabilitas menunjukkan kinerja operasi  perusahaan selama satu periode tertentu. Jumlah laba yang dihasilkan oleh perusahaan dapat diukur relatif terhadap tingkat penjualan, aktiva atau ekuitas perusahaan.
Margin Laba Bersih (net profit margin), adalah ukuran laba bersih sebagai persentase dari penjualan.

Margin Laba Bersih                                    =          Laba Bersih
                                                                  Penjualan Bersih
a.      Pengembalian atas Aktiva (Return on assets-ROA)
Sebuah perusahaan megukur pengembalian  ( laba bersih) perusahaan sebagai resentase dari total jumlah aktiva yang dimanfaatkan perusahaan. Semakin tinggi ROA, maka semakin efisien perusahaan tersebut memanfaatkan aktivanya.

ROA                   =          Laba Bersih
                                                Total Aktiva



b.      Pengembalian atas Ekuitas (return on equity-ROE)
Mengukur pengembalian bagi para pemegang saham biasa sebagai persentase dari investasi mereka pada perusahaan. ROE mengukur kinerja perusahaan atas penggunaan ekuitas yang telah diberikan. Para pemegag saham lebih menyukai nilai ROE yang sangat tinggi karena ROE yang tinggi menunjukkan pengembalian yang tinggi relatif terhadap jumlah investasi yang telah mereka tanamkan.

ROE                               =          Laba Bersih
                                                            Ekuitas Pemilik




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KASUS

LAPORAN KEUANGAN PT INDOSAT TBK DAN XL AXIATA

Laporan keuangan  PT Indosat Tbk  dan  PT XL Axiata terdiri dari lima laporan yaitu Laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, san catatan atas laporan keuangan. PT Indosat Tbk  dan  PT XL Axiata  menganut prinsip Full Disclouser karena menjelaskan informasi-informasi tentang perusahaan di dalam catatan atas laporan keuangan, misalnya metode yang dipakai dalam penilaian persedian sampai penjelasan saham yang ada di perusahaan tersebut.
Laporan posisi keuangan  PT Indosat Tbk  dan  PT XL Axiata berbentuk  Staffel (Refort Form) atau vertical. Laporan ini  dilaporkan satu halaman vertical,  disebelah atas dicantumkan total aktiva dan di bawahnya disajikan total  kewajiban dan  modal. Pos-pos dalam laporan ini di pisahkan antara lancar dan tidak lancar di bagian Harta serta jangka pendek dan jangka panjang di bagian kewajiban.
Laporan laba rugi PT Indosat Tbk  berbentuk single step , tidak dikelompokan . Pendapatan  Indosat digabungkan dalam satu kelmpok, namun pada bagian beban  di pisah antara beban operasi dan beban non operasi. Laporan laba rugi  PT XL Axiata juga berbentuk single step , tidak ada pengelompokan di dalamnya.
1.         Perhitungan Rasio
Berdasarkan Laporan keuangan PT Indosat Tbk  dan  PT XL Axiata khususnya laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2011 dan 2012 , didapatkan perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas dan Rentabilitas untuk membandingkan kinerja kedua perusahaan tersebut, perhitungannya sebagai berikut :



1.2.Likuiditas
a.      Current rasio

Indosat
XL

2012
2011
2012
2011
Aktiva Lancar (a)
 Rp 8,308,810,000,000
  Rp 5,767,565,000,000
 Rp 3,958,985,000,000
 Rp 3,387,237,000,000
Hutang Lancar (a)
 Rp 11,015,751,000,000
 Rp   11,968,067,000,000
 Rp  8,739,996,000,000
 Rp   8,728,212,000,000
Rasio (a/b)
0.7543 / 75.43%
0.4819 / 48.19%
0.4530  / 45.30%
0.3881 / 38.81%
naik atau turun
0.2724
0.0649

Hasil perhitungan current rasio Indosat pada tahun 2011 dan 2012 menunjukan angka rasio sebesar 0.4819 dan 0.7545. hal ini berarti menunjukan tingkat likuiditas Indosat tidak cukup baik karena hasil angka rasio kurang dari satu atau 100 % yang menunjukan jumlah hutang lebih besar dari pada jumlah aktiva . Pada tahun 2011 current rasio menunjukan angka 48.19% yang berarti bahwa setiap Rp 1 hutang lancar hanya dapat ditutupi dengan Rp 0.4819 aktiva lancar . pada tahun 2012 menunjukan angka rasio sebesar 75.43 %  yang berarti setiap Rp 1 hutang lancar hanya dapat ditutupi denganRp  0.7543 Aktiva lancar. Walaupun terjadi peningkatan current rasio sebesar 27.24% karena peningkatan akitiva lancar yg cukup besar,  namun Indosat belum mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancarnya .
sama seperti indosat, current rasio XL pada tahun 2011 dan 2012 tidak baik karena tidak  melebihi seratus persen. Pada tahun 2011 current rasio XL menunjukan angka 38.81% hal ini berarti setiap Rp 1 hutang lancar XL hanya dapat diditutupi dengan Rp 0.3881 aktiva lancarnya.pada tahun 2012 menunjukan angka 45.30 % hal ini berarti setiap Rp 1 hutang lancar hanya dapat ditutupi dengan Rp 0.4530 aktiva lancar. 
Jika Indosat dibandingkan dengan XL , current rasio yang dimiliki indosat lebih besar dari pada yang dimiliki XL hal ini berarti tingkat likuiditas Indosat lebih baik daripada XL.
b.      Quick Rasio

Indosat
XL
2012
2011
2012
2011
Aktiva Lancar (a)
Rp  8,308,810,000,000
Rp 5,767,565,000,000
 Rp 3,958,985,000,000
 Rp 3,387,237,000,000
Persediaan (b)
 Rp  52,556,000,000
 Rp    75,890,000,000
 Rp    49,807,000,000
 Rp  66,595,000,000
Hutang lancar (c)
Rp 11,015,751,000,000
 Rp 11,968,067,000,000
 Rp  8,739,996,000,000
 Rp  8,728,212,000,000
Rasio(a-b)/c
0.7495 / 74.95 %
0.4756 / 47.56 %
0.4473 / 44.73 %
0.3804 / 38.04%
naik atau turun
0.2739
0.0668


Hasil perhitungan angka Quick ratio Indosat lebih rendah daripada  current rasio Indosat, pada tahun 2011 menunjukan angka 47.56 % hal ini berarti setiap Rp 1 hutang lancar hanya dapat ditutupi dengan Rp 0.4756 aktiva lancar yang mudah diuangkan. Pada tahun 2012 menunjukan angka rasio sebesar 74.95% hal ini berarti setiap Rp 1 hutang lancar  hanya dapat ditutupi dengan Rp 0.7495 aktiva lancar yang mudah diuangkan. Jumlah current rasio Indosat lebih besar dari pada quick rasio hal ini menandakan banyaknya investasi yang terjadi di persediaan.
Keadaan quick rasio XL tidak jauh berbeda kasusnya dengan indosat dimana quick rasionya lebih kecil dari pada current rasionya . kemampuan XL untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva yang mudah diuangkan buruk.
Namun, Jika kita bandingkan quick rasio indosat dan XL, quick rasio yang dimiliki indosat lebih besar daripada XL, hal ini berarti kemampuan indosat untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya menggunakan aktiva yang mudah diuangkan lebih baik dari pada XL pada tahun 2012 dan 2011.



2.      Solvabilitas
a.       Debt to asset ratio
INDOSAT
XL
2012
2011
2012
2011
Total hutang (a)
 Rp 35,829,677,000,000
 Rp 34,263,912,000,000
 Rp 20,085,669,000,000
 Rp 17,478,142,000,000
Total aktiva(b)
 Rp 55,225,061,000,000
 Rp 53,233,012,000,000
 Rp 35,455,705,000,000
 Rp 31,170,654,000,000
Rasio (a/b)
0.6488/64.88%
0.6437/64.37%
0.5665/56.56%
0.5607/56.07%
naik atau turun
0.0051
0.0058









Pada tahun 2011 debt to asset rasio Indosat menunjukan angka rasio sebesar 64.37% hal ini berarti 64 % harta perusahaan didanai dari hutang atau kreditor dan sisanya yaitu 35.63 % didanai dari investor. Pada tahun 2012 menunjukan angka 64.88% hal ini berarti 64.88% harta perusahaan didanai dari hutang dan sisanya yaitu 35.12% didanai dari Investor.
Pada tahun 2011 debt to asset rasio XL menunjukan angka sebesar 56.07% hal ini berarti sebanyak 56.07% harta perusahaan didanai dari hurang dan sisanya yaitu 43.93 % didanai dari investor. Pada tahun 2012 menunjukan angka 56.56% hal ini berarti sebanyak 56.56% harta perusahaan didanai dari hutang dan sisanya yaitu 43.44% didanai dari investor.
Terjadi peningkatan rasio di kedua perusahaan tersebut yang menandakan adanya kenaikan harta yang didanai dari hutang dan meningkatnya beban hutang perusahaan. Semakin besar persentase semakin besar pula risiko yang ditanggung perusahaan untuk membayar hutang tersebut.
Namun jika kedua perusahaan tersebut dibandingkan Indosat mempunyai risiko yang lebih besar dari pada XL karena mempunyai rasio yang lebih besar. resiko kreditor berupa ketidakmampuan perusahaan membayar semua kewajibannya lebih tinggi Indosat.Apabila terlalu banyak berhutang perusahaan dapat mengalami masalah dalam membayar angsuran hutang. Kemungkinan Indosat untuk mendapatkan masalah lebih besar dari XL.

b.           Debt to equity ratio

Indosat
XL
2012
2011
2012
2011
Total hutang(a)
 Rp  35,829,677,000,000
 Rp  34,263,912,000,000
 Rp 20,085,669,000,000
 Rp 17,478,142,000,000
equity (b)
 Rp  19,395,384,000,000
 Rp  18,969,100,000,000
 Rp 15,370,036,000,000
 Rp 13,692,512,000,000
Rasio (a/b)
1.8473/ 184.73%
1.8063/180.63%
1.3068/130.68%
1.2765/127.65%
naik atau turun
0.0410
0.0303


Hasil perhitungan debt to equity rasio yang dimiliki indosat pada tahun 2011 menunjukan angka 180.65% hal ini berarti pada tahun 2011 Indosat mempunyai total hutang sebanyak 1,8 kali modal perusahaanya. Pada tahun 2012 menunjukan angka 184.73% hal ini berarti pada tahun 2012 Indosat memiliki total hutang sebanyak 1.84 dari modal perusahaannya.
Pada tahun 2011 rasio yang dimiliki XL menunjukan angka 127.65 % hal ini berarti pada tahun 2011 XL mempunyai total hutang sebanyak 1.27 kali modal perusahaanya. Pada tahun 2012 menunjukan angka 130.68% hal ini berarti pada tahun 2012 XL mempunyai total hutang sebanyak 1.3 kali modal perusahaan.
Terjadi kenaikan rasio pada tahun 2011/2012 di kedua perusahaan tersebut yang menunjukan meningkatnya komposisi total hutang yg lebih tinggi dibandingkan dengan modalnya.sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar. Indosat dan XL belum mampu untuk membayar total hutangnya menggunakan modal perusahaan karena lebih besar hutang dari pada modal yang dimiliki.namun jika Indosat dibandingkan dengan XL ,Indosat mempunyai lebih banyak pendanaan perusahaan yang disediakan oleh kreditor. Beban Hutang yang dimiliki indosat lebih besar dan kemampuan indosat untuk membayar hutangnya menggunakan modalnya tidak lebih baik dibanding XL.


3.      Rentabilitas

Indosat
XL
Net Profit Margin
2012
2011
2012
2011
EAT (a)
 Rp  487,416,000,000
 Rp 1,066,744,000,000
 Rp  2,764,647,000,000
Rp 2,830,101,000,000
Pendapatan (b)
 Rp 22,418,812,000,000
 Rp 20,529,292,000,000
 Rp 20,969,806,000,000
 Rp 18,260,144,000,000
Rasio (a/b)
0.0217 / 2.17%
0.0520 / 5.20%
0.1318 / 13.18%
0.1550 / 15.50%
naik atau turun
-0.0302
-0.0231

a.           Net profit margin


Hasil perhitungan net profit margin di Indosat pada tahun 2011 menunjukan angka sebesar 5.2% hal ini berarti indosat dapat menghasilkan laba tahun 2011 sebesar 5.2% dari pendapatanya. Pada tahun 2012 menurun ke angka 2.17% hal ini berarti indosat dapat menghasilkan laba bersih tahun 2012 hanya sebesar 2.17% dari pendapatannya. Penurunan ini disebabkan karena laba yang turun dari tahun 2011 ke 2012 karena peningkatan biaya pendanaan yang signifikan.
Hasil perhitungan net profit margin di XL pada tahun 2011 menunjukan angka 15.5%  hal ini berarti XL dapat menghasilkan laba pada tahun 2011 sebesar 15,5% dari pendapatnya, lebih baik dari indosat yang hanya dapat menghasilkan laba 5.2% dari pendapatannya. Pada tahun 2012 menunjukan angka 13.18% hal ini berarti XL dapat menghasilkan laba sebesar 13.18% dari pendapatannya, walaupun turun dari tahun sebelumnya namun angka ini lebih baik dari indosat yang hanya menghasilkan laba sebesar 2,17% dari pendapatannya.
Indosat mempunyai rasio jauh di bawah XL hal ini berarti Indosat tidak lebih baik dari XL dalam menghasilkan laba dari pendapatanya dan kurang mampu menekan biaya yang terjadi.


Indosat
XL
2012
2011
2012
2011
EBIT (a)
 Rp   2,405,424,000,000
 Rp   3,168,065,000,000
 Rp   4,352,463,000,000
 Rp   4,443,363,000,000
Total Aktiva (b)
 Rp 55,225,061,000,000
 Rp 53,233,012,000,000
 Rp 35,455,705,000,000
 Rp 31,170,654,000,000
Rasio (a/b)
0.0436 / 4.36 %
0.0595 / 5.95%
0.1228 /12.28%
0.1425 / 14.25%
naik atau turun
-0.0160
-0.0198

b.           Return on Asset






Pada tahun 2011 rasio return on asset yang dimiliki indosat menunjukan angka 5.95% hal ini berarti bahwa setiap Rp 1 aktiva menghasilkan laba bersih sebelum pajak  sebesar Rp 0.0595 . pada tahun 2012 menunjukan angka sebesar 4.36% hal ini berarti setiap Rp 1 aktiva dapat menghasilkan Rp 0.0436 laba bersih sebelum pajak. Rasio return on asset indosat mengalami penurunan dari tahun 2011 ke 2012 disebabkan karena total aktiva yang meningkat namun total laba menurun. Pemakaian aktiva di indosat kurang efektif karena terjadi penurunan di tahun 2012.
Sedangkan rasio return on asset milik XL pada tahun 2011 menunjukan angka sebesar 14.25% hal ini berarti setiap Rp 1 aktiva milik XL dapat menghasilkan Rp 0.1425 laba bersih sebelum pajak dan pada tahun 2012 menunjukan angka sebesar  12.28% hal ini berarti setiap Rp 1 aktiva milik XL dapat menghasilkan Rp 0.1228 laba bersih sebelum pajak. Sama seperti indosat, angka rasio XL mengalami penurunan karena meningkatnya aktiva  dan menurunnya laba.
Jika indosat dibandingkan dengan XL,  efektifitas indosat dalam menggunakan total aktiva untuk menghasilkan laba tidak lebih baik dari XL . dapat dibuktikan dengan perhitungan rasio return on asset milik XL yang lebih besar daripada milik indosat.



c.       Return on equity

Indosat
XL
2012
2011
2012
2011
EAT (a)
 Rp      487,416,000,000
 Rp   1,066,744,000,000
 Rp     2,764,647,000,000
 Rp     2,830,101,000,000
MODAL (b)
 Rp 19,395,384,000,000
 Rp 18,969,100,000,000
 Rp   15,370,036,000,000
 Rp   13,692,512,000,000
Rasio (a/b)
0.0251/2.51%
0.0562/5.62%
0.1799/17.99%
0.2067/20.67%
naik atau turun
-0.0311
-0.0268


Perhitungan rasio return equity indosat pada tahun 2011 menunjukan angka 5.62% hal ini berarti setiap Rp 1 modal menghasilkan laba sebesar Rp 0.0562. pada tahun 2012 menunjukan angka sebesar  2.51% hal ini berarti setiap Rp 1 modal dapat menghasilkan laba Rp 0.0251 . terjadi penurunan rasio pada tahun 2011/2012 disebabkan karena adanya kenaikan modal namun laba setelah pajak turun karena beban pendanaan yang besar.
Sedangkan return  equity milik XL pada tahun 2011 menunjukan angka 20.67% hal ini berarti setiap Rp 1 modal dapat menghasilkan laba sebesar Rp 0.2067 . pada tahun 2012 menunjukan angka sebesar 17.99% hal ini berarti setiap Rp 1 modal dapat menghasilkan laba sebesar Rp 0.1799 . sama seperti indosat, rasio ROE XL mengalami penurunan karena peningkatan modal dan penurunan laba .
Namun jika di bandingkan dengan XL, indosat memiliki return on equity yang buruk karena rasio indosat yang jauh lebih rendah dari XL.
Kemampuan modal indosat yang di investasikan untuk berputar dalam menghasilkan laba sangat rendah dibandingkan XL.







4.      Rasio Aktivitas
a.      Day’s sales outstanding
Indosat
XL

2012
2011
2012
2011
piutang usaha(a)
 Rp   574,650,000,000
 Rp   318,243,000,000
 Rp     505,678,000,000
Rp      644,404,000,000
Pendapatan(b)
 Rp 22,418,812,000,000
 Rp   20,529,292,000,000
 Rp 20,969,806,000,000
 Rp   18,260,144,000,000
penjualan per hari(c)
 Rp    61,421,402,740
 Rp      56,244,635,616
 Rp       57,451,523,288
 Rp        50,027,791,781
Hasil(a/c)
9.35 kali
5.65 kali
8.80 kali
12.88 kali

Pada tahun 2011 DSO indosat sebesar 5 hari hal ini berarti indosat membutuhkan waktu 5 hari untuk merealisasikan penerimaan kasnya atas penjualan yang telah dilakukan. Pada tahun 2012 DSO Indosat sebesar 9 kali hal ini berarti Indosat membutuhkan waktu 9 hari untuk merealisasikan penerimaan kasnya atas penjualan yang telah dilakukan. Terjadi kenaikan DSO dari tahun 2011 ke 2012 , dari 5 hari ke 9 hari. Kenaikan ini berdampak buruk terhadap kinerja perusahaan karena perusahaan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan penerimaan kas dari penjualannya.
Pada tahun 2011 DSO XL sebesar 13 hari hal ini berarti XL membutuhkan waktu 13 hari untuk merealisasikan penerimaan kasnya atas penjualan yang telah dilakukannya. Pada tahun 2012 DSO XL sebesar 9 hari hal ini berarti XL membutuhkan waktu 9 hari untuk merealisasikan penerimaan kasnya atas penjualannya yang telah dilakukan. Terjadi penurunan DSO pada tahun 2011 ke 2012 hal ini berarti kemampuan XL untuk menagih piutangnya kepada pembeli membaik yaitu dari 13 hari ke 9 hari. XL akan mendapatkan penerimaan kas lebih cepat dari tahun sebelumnya.
Walaupun pada tahun 2011 Indosat lebih mampu merealisasikan penerimaan kasnya lebih cepat dari pada XL namun pada tahun 2012 kemampuan indosat untuk merealisasikan penerimaan kasnya menurun sedangkan kemampuan XL untuk merealisasikan penerimaan kasnya membaik bahkan lebih baik dari indosat pada tahun 2012. Jadi , kinerja indosat tidak meningkat seperti XL pada tahun 2011/2012 dan kinerja Indosat tidak lebih baik dari XL.

DAFTAR PUSTAKA

Riyanto, Bambang, 2008. Dasar-dasar Pembelajaran Perusahaan, BPFE,Yogyakarta.
Sawir, Agnes, 2009. Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan keauangan Perusahaan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
                        https://www.academia.edu/4489389/akuntansi_dan_analisis_keuangan       (diakses pada tanggal 15 Desember 2015)
                        https://books.google.co.id/books?id Analisis Rasio (diakses pada tanggal 15 Desember 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar