Jumat, 06 November 2015

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI SAP 4



PEMROSESAN TRANSAKSI DAN PROSES PENGENDALIAN INTERNAL
1.    PERLUNYA PENGENDALIAN
1.1.Pengendalian dan Eksposur
Pengendalian dibutuhkan untuk mengurangi eksposur terhadap risiko. Organisasi merupakan sasaran berbagai macam eksposur yang dapat mengganggu operasi perusahaan atau bahkan eksistensi kelangsungan hidup perusahaan. Eksposur mencakup potensi dampak finansial akibat suatu kejadian dikalikan dengan probablilitas terjadinua kejadian tersebut. Istilah risiko merupakan sinonim untuk istilah probabilitas terjadinya suatu kejadian. Oleh karena itu, eksposur adalah risiko dikalikan konsekuensi finansial atas risiko tersebut. Eksposur tidak semata-mata terjadi akibat kurangnya pengendalian. Pengendalian berguna mengurangi eksposur, tetapi pengendalian tidak dapat memengaruhi penyebab terjadinya eksposur. Eksposur melekat dalam operasi setiap organisasi dan dapat diakibatkan oleh berbagai sebab.

1.2.Eksposur Umum
1.       Biaya yang Terlalu Tinggi
Setiap pengeluaran yang dibuat oleh suatu organisasi potensial untuk menjadi biaya yang terlalu tinggi.Harga yang dibayarkan untuk pembelian barang bias saja terlalu mahal. Produksi bisa saja tidak efisien sehingga menyerap pembelian dan pemakaian bahan baku dan tenaga kerja yang terlalu banyak. Sehingga biaya yang terlalu tinggi ini akan mengurangi laba.
2.       Pendapatan yang Cacat
Biaya piutang tidak tertagih dari penjualan kredit terlalu banyak. Tagihan hilang atau salah catat sebagai piutang dagang. Penjualan yang telah dibatalkan akibat terlambatnya pengiriman barang yang dipesan. Sehingga pendapatan yang cacat ini akan menjadi pendapatan yang terlalu rendah dan tentu akan mengurangi laba.
3.       Kerugian Akibat Kehilangan Aktiva
Aktiva dapat hilang akbiat pencurian,tindakan kekerasan,atau bencana alam. Kas, bahan baku, atau peralatan dapat rusak atau salah penempatan, ini bisa terjadi ssebagai akibat kecerobohan karyawan ataupun tindakan tidak disengaja. Setiap organisasi harus menjaga setiap aktiva yang dimiliki yang memiliki peluang untuk hilang.
4.       Akuntansi yang Tidak Akurat
Kebijakan dan prosedur akutansi dapat salah,tidak tepat atau secara signifikan berbeda dari yang diterima umum. Kesalahan ini dapat mencakup kesalahan penilaian transaksi, kesalahan waktu pencatatan transaksi, atau kesalahan klasifikasi transaksi. Dampak kesalahan dapat berakibat pada informasi yang tidak akurat guna pengambilan keputusan.
5.       Interupsi Bisnis
Interupsi bisnis bisa mencakup penghentian sementara suatu operasi bisnis,penghentian permanen atas operasi suatu bisnis, atau penutupan usaha.
6.       Sanksi Hukum
Sanksi hukum mencakup denda yang dikenakan oleh pengadilan atau badan legal yang memiliki wewenang atas organisasi dan operasi perusahaan. Penghentian kegiatan bisnis bisa saja terjadi sebagai hukuman dari lembaga pemerintah jika perusahaan melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
7.       Ketidakmampuan untuk Bersaing
Ketidakmampuan ini dapat terjadi sebagai akibat kombinasi berbagai eksposur yang telah dibahas dan bisa juga sebagai akibat ketidakefetifan keputusan manajer.
8.       Kecurangan dan Pencurian
Kecurangan merupakan kesengajaan untuk memutarbalikkan kebenaran dengan tujuan untuk mempengaruhi pihak lain untuk menyerahkan sesuatu yang berharga.Kecurangan dan pencurian  dapat dilakukan pihak eksternal maupun pihak internal.
1.3.   Kecurangan dan Kejahatan Kerah Putih
  Ada tiga bentuk kejahatan kerah putih:
a.              Karyawan mencuri harta kekayaan perusahan untuk kepentingan pribadi.
b.              Pencurian harta kekayaan perusahaan oleh karyawan yang berkolusi dengan pihak
          luar.
c.              Kecurangan manajemen terkait dengan penyalahgunaan aset atau manajemen salah interpretasi terhadap aset.
1.  Kecurangan Manajemen
Kecurangan manajemen meliputi penyalahgunaan atau kesalahan interpretasi terhadap aset baik oleh karyawan maupun pihak ketiga diluar perusahaan  atau keduanya.Manajemen merupakan pihak yang bertanggungjawab untuk membangun pengendalian didalam organisasi. Sehingga manajemen tidak menjadi subjek dari pengendalian tersebut. Oleh karena itu, kecurangan oleh manajemen jarang terdeteksi dibandingkan dengan kecurangan oleh karyawan.
2.  Pelaporan Keuangan yang Menyesatkan
Adalah tindakan sengaja atau tidak sengaja,sebagai akibat niat hati atau kekhilafan yang menyebabkan informasi  dalam laporan keuangan secara material menggangu pengambilan keputusan.
3.  Kejahatan Korporat
Merupakan kejahatan kerah putih  yang menguntungkan suatu perusahaan atau organisasi dan bukan hanya menguntungkan individu tertentu yang melakukan kecurangan. Contoh kejahatan perusahaan adalah pembebanan tagihan yang berlebihan kepada pemerintah federal oleh pengembang dan perilaku buruk pada saat penjualan surat berharga pemerintah oleh perusahaan broker
4.  Akuntansi Forensik
Merupakan salah satu dari beberapa istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan aktivitas seseorang yang bertugas mencegah dan mendeteksi kecurangan.
NACFE (National Association of Certified Fraud Examiner) merupakan satu organisasi profesional yang dibangun sbagai respon trhadap meningkatnya kecurangan yg trjd dalam bisnis dan pemerintahan. Misi NACFE adalah untuk mengurangi terjadinya kecurangan dan kejahatan kerah outih dan untuk membantu anggota NACFE mendeteksi dan mencegah kecurangan dan kejahatan kerah putih.

5.  Tingkat Keseriusan Kecurangan
Tiga jenis kecurangan yang paling mahal adalah pelanggaran rahasia paten,kecurangan kartu kredit,dan laporan keuangan palsu.Masing masing kasus dari ketiga kasus tersebut melibatkan kerugian lebih dari $1 juta.Pada sebagian besar kasus,kecurangan ditemukan melalui pengendalian internal.Dua metode lain yang paling sering berhasil untuk mengunggkapkan kecurangan  adalah tinjauan auditor internal dan investigasi oleh manajemen.
1.4.   Pemrosesan Komputer dan Eksposur
          Sebagian aspek dari pemrosesan kompuer meningkatkan resiko atau potensi kerugian dalam organisasi,tidak peduli apakah pemrosesan computer digunakan di perusahaan ataupun tidak. Aspek lain dari pemrosesan komputer memicu lahirnya suatu eksposur baru.
          Peralatan mainframe computer merupakan aktiva yg cukup mahal dan membutuhkan lingukan khusus untuk memastikan mainframe tersebut dapat beroperasi secara efisien. Akses yang terbatas harus menjadi pertimbangan utama. Pintu akses masuk ke lokasi sistem komputer seharusnya sedikit saja. Cara untuk membatasi akses ke lokasi komputer bisa dilakukan dengan cara antara lain pintu yang terkunci dengan program tertentu, penjaga keamanan, dan cctv
1.5.   Tujuan Pengendalian dan Siklus Transaksi
          Pengendalian berguna untuk mengurangi eksposur. Analisis eksposur dalam suatu organisasi sering berhubungan dengan konsep siklus transaksi. Ada empat siklus aktivitas transaksi bisnis, yaitu:
a.       Siklus pendapatan : Kejadian yg terkait dengan distribusi barang dan jasa ke entitas lain dan penagihan atas pembayaran yg terkait dengan distribusi barang dan jasa.
b.      Siklus pengeluaran : Kejadian yag terkait dengan akusisi barang dan jasa dari entitas lain dan pelunasan kewajiban terkait dengan akuisisi tersebut.
c.       Siklus produksi :  Kejadian yang terkait dengan transformasi bahan baku menjadi barang dan jasa.
d.      Siklus keuangan : Kejadian yang terkait dengan akuisisi dan pengelolaan dana dan modal termasuk kas.
Manajemen harus mengembangan secara detail tujuan pengendalian untuk setiap siklus transaksi. Tujuan pengendalian ini menjadi dasar untuk analisis.
TUJUAN PENGENDALIAN
Siklus Pendapatan
Pelanggan harus diotorsisasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan manajemen.

Harga dan termin barang dan jasa yang dijual harus diotorisasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan manajemen

Semua pengiriman barang dan jasa harus diikuti dengan penagihan ke pelanggan.

Tagihan ke pelanggan harus akurat dan dengan cepat diklasifikasikan, diringkas, dan dilaporkan
Siklus Pengeluaran
Vendor harus diotorisasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh manajemen.

Karyawan yang direkrut harus sesuai dengan kriteria manajemen.

Akses terhadap catatan personalia, catatan penggajian, dan catatan potongan gaji hanya diberikan pada pihak tertentu sesuai dengan kritria manajemen.

Tarif kompensasi&potongan gaji harus diotorisasi sesuai dgn kriteria manajemen.

Jumlah terutang ke vendor harus akurat dan harus segera dikelompokkan, diringkas, dan dilaporkan
Siklus Produksi
Rencana produksi harus diotorisasi sesuai dengan kriteria manajemen.

Harga pokok produksi harus akurat dan harus segera dikelompokkan, diringkas, dan dilaporkan.
Siklus Keuangan
Jumlah dan waktu transaksi utang harus diotorisasi sesuai dg kriteria manajemen.

Akses atas kas dan surat berharga hanya diberikan pada pihak tertentu sesuai dengan kritria manajemen.

2.    KOMPONEN PROSES PENGENDALIAN INTERNAL
2.1.   Pengaruh Eksternal yang Terkait dengan Entitas dan Pengendalian Internal
FCPA ( Federal Foreign Corrupt Practices Act) tahun 1977 merupakan satu persyaratan legal yang menjadi pertimbangan banyak organisasi. Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat mengakibatkan hukuman denda dan kurungan. Bagian 102 dari FCPA mensyaratkan semua perusahaan yang menjadi subjek dari Securities Exchange Act tahun 1934 untuk:
1.       Membuat dan memelihara buku catatan, dan rekening yang cukup detail dan merefleksikan transaksi dan karakteristik aktiva secara akurat dan wajar.
2.       Mengembangkan dan memelihara sistem pengendalian akuntansi internal yang dapat memberikan jaminan yang masuk akal bahwa:
a.       Transaksi dilaksanakan sesuai dengan otorisasi manajemen, khusus maupun umum
b.      Transaksi dicatat guna (i) memudahkan penyajian laporan keuangan agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum atau kriteria lain yang dapat diterapkan dan (ii) memelihara akuntabilitas aktiva.
c.       Akses terhadap aktiva hanya diizinkan sesuai dengan otorisasi manajemen, baik otorisasi khusus maupun umum
d.      Akuntabilitas aktiva yang tercatat dibandingkan dengan aktiva yang saat ini ada pada rentang yang cukup rasional, dan tindakan yang tepat perlu diambil terkait dengan perbedaan nilai yang ditemukan.
Pelanggaran terhadap provisi tersebut dapat mengakibatkan denda $10,000 baik pada perusahaan maupun staf perusahaan, dan penjara lima tahun bagi para eksekutif yang terlibat. FCPA menghendaki mereka yang terdaftar untuk memelihara catatan “dengan cukup detail” dan untuk memelihara sistem pengendalian akuntansi internal yang dapat memberikan “jaminan yang masuk akal” atas tercapainya suatu tujuan tertentu.


2.1.1.      Sarbanes-Oxley Act
Bagi perusahaan publik, Sarbanes-Oxley Act 2002 (SOA) memuat tuntutan dan batasan atas manajemen, auditor, dan dewan audit perusahaan. Ia juga mencakup penerapan penalti keuangan maupun kriminal. SOA meningkatkan penalti maksimum atas pelanggaran Securities Act 1934 dari $1 juta dan penjara 10 tahun, menjadi $5 juta dan penjara 20 tahun.
2.1.2.      Batasan atas jasa Selain Audit
SOA membatasi jasa selain audit yang dapat diberikan oleh auditor kepada klien mereka. Jasa yang tidak diizinkan adalah sebagai berikut:
a.       Pencatatan akuntansi atau jasa lain terkait dengan catatan akuntansi atau laporan keuangan dari klien audit
b.      Perancangan dan penerapan sistem informasi keuangan
c.       Jasa penilaian, opini kewajaran, atau laporan contribution-in-kind
d.      Jasa aktuaria
e.        Jasa outsourcing dan internal
f.       Fungsi manajemen atau sumber daya manusia
g.      Broker, dealer, penasihat investasi, atau jasa perbankan investasi
h.      Jasa legal dan jasa keahlian yang tidak terkait dengan audit
i.        Jasa lain-lain yang berdasar peraturan tidak diizinkan

2.1.3.      Peran Komite Audit
SOA melegalkan pentingnya komite audit. Perusahaan harus memiliki komite audit ( sebagai bagian dari dewan direksi ) yang terdiri dari anggota independen yang tidak menerima kompensasi dari perusahaan ( atau anak perusahaan ) atas pekerjaan selain jasa sebagai dewan direksi.
2.1.4.      Konflik Kepentingan
Chief Excecitive Officer ( CEO ), controller, Chief Financial Officer ( CFO ), chief acccounting officer, atau orang yang berada pada posisi yang ekuivalen dengan posisi tersebut, tidak boleh dipekerjakan di kantor akuntan publik yang ditunjuk oleh perusahaan dalam periode satu tahun sebelum pelaksanaan audit.
2.1.5.      Tanggung Jawab Perusahaan atas Pelaporan Keuangan
CEO dan CFO harus membuat satu pernyataan yang akan disertakan pada laporan audit untuk menjamin “kewajaran laporan keuangan dan pengungkapan yang termuat dalam laporan periodik dan bahwa laporan keuangan dan pengungkapan tersebut menggambarkan secara wajar, dalam segala hal yang material, kondisi keuangan dan operasi penerbit.
2.1.6.      Larangan Perdagangan Insider selama Periode ‘Blackout’ dana pensiun
SOA melarang pembelian atau penjualan saham oleh staf dan direktur atau pihak insidier yang lain selama periode blackout
2.1.7.      Larangan atas Pemberian Pinjaman Personal kepada Eksekutif dan Direktur
Perusahaan dilarang meminjamkan uang kepada direktur atau staf eksekutif perusahaan.
2.1.8.      Kode Etik
Perusahaan diminta untuk mengungkapkan apakah mereka telah memiliki kode etik yang berlaku untuk staf keuangan senior, dan mereka harus mengungkapkan isi kode etik tersebut.
2.1.9.      Penaksiran Manajemen atas Pengendalian
Internal SOA mensyaratkan laporan tahunan memuat laporan pengendalian internal yang (1) menyatakan tanggung jawab manajemen untuk membangun dan memelihara struktur dan prosedur pengendalian internal yang memadai untuk pelaporan keuangan, serta (2) memuat suatu penilaian, pada akhir tahun fiskal perusahaan, mengenai keefektifan struktur dan prosedur pengendalian internal dari laporan keuangan perusahaan.
2.2.    Dampak Lingkungan Bisnis Terhadap Pengendalian Internal
Pertimbangan penting yang lain adalah proses pengendalian internal suatu entitas bervariasi tergantung pada konteks ukuran organisasi; struktur organisasi; karakteristik kepemilikan;  metode transmisi, pemrosesan, pemeliharaan, dan pengevaluasian informasi; persyaratan legal dan regulator; diversitas dan kompleksitas operasi organisasi.
2.2.1.  Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian adalah dampak kumulatif atas faktor-faktor untuk membangun, mendukung, dan meningkatkan efektifitas kebijakan dan prosedur tertentu. Dengan kata lain, lingkungan pengendalian menentukan iklim organisasi dan memengaruhi kesadaran karyawan terhadap pengendalian.
Faktor yang tercakup dalam lingkunga pengendalian adalah:
a.       Nilai-nilai integritas dan etika
Pelanggaran etika dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan. Eksposur semacam ini mencakup kemungkinan denda yang cukup besar atau tuduhan kriminal terhadap perusahaan maupun eksekutif dalam perusahaan tersebut. Sebagai contoh, E.F. Hutton di denda $12 juta pada saat ia dinyatakan bersalah terkait dengan kecurangan surat dan kesurangan kabel.
b.      Komitmen terhadap kompetensi
Kompetensi karyawan memungkinkan proses pengendalian internal dapat berfungsi dengan baik. Sebenarnya kualitas dan kompetensi karyawanlah yang dapat memastikan terlaksananya proses pengendalian yang baik. Tidak ada proses pengendalian yang dapat berfungsi dengan baik tanpa karyawan yang kompeten.
c.       Filosofi manajemen dan gaya operasi
Pengendalian yang efektif dalam suatu organisasi dimulai dan diakhiri dengan filosofi manajemen. Jika manajemen percaya bahwa pengendalian penting, manajemen akan memastikan bahwa kebijakan dan prosedur pengendalian diterapkan secara efektif. Sikap yang menyadari pentingnya pengendalian akan terkomunikasikan pada para bawahan melalui gaya operasi manajemen. Jika, di sisi lain, manajemen hanya sekedar berbicara mengenai perlunya pengendalian, maka para bawahan kemungkinan besar akan dapat merasakan sikap yang sesungguhnya di balik kalimat tersebut. Selanjutnya, tujuan pengendalian tidak akan dapat tercapai.
d.      Struktur organisasi
Struktur organisasi didefinisikan sebagai pola otoritas dan tanggung jawab yang ada dalam organisasi.  Struktur organisasi formal seringkali digambarkan dalam bentuk diagram organisasi.
e.       Fungsi Dewan Direksi dan Komitenya
Dewan direksi merupakan perantara yang menghubungkan pemegang saham selaku pemilik organisasi dengan manajemen yang bertanggung jawab menjalankan organisasi. Pemegang saham mengontrol manajemen melalui fungsi dewan direksi dan komitenya. Jika keanggotaan dewan direksi sepenuhnya terdiri dari manajemen, atau jika dewan direksi jarang mengadakan rapat, maka pemegang saham tidak memiliki kendali atas operasi manajemen.
f.       Cara Memberikan Wewenang dan Tanggung Jawab
Metode pembagian wewenang dan tanggungjawab dalam suatu organisasi mengindikasikan filosofi manajemen dan gaya operasi manajemen. Pada struktur organisasi formal, dokumen tertulis sering digunakan untuk mengindikasikan pemberian wewenang dan tanggungjawab dalam organisasi. Memo tertulis, manual kebijakan, serta manual prosedur merupakan sarana lain yang juga digunakan untuk mengatur wewenang dan tanggungjawab dalam organisasi.
Penganggaran, Penganggaran merupakan proses pembuatan anggaran. Anggaran untuk seluruh organisasi disebut anggaran master. Anggaran master sering disajikan sebagai satu laporan keuangan pro forma. Laporan keuangan pro forma merupakan ramalan laporan keuangan, seperti neraca dan laba rugi, yang menggambarkan prediksi keuangan sebagai konsekuensi dari rencana operasi manajemen untuk periode anggaran tersebut. Contoh: anggaran yang lazim dibuat adalah anggaran pengeluaran modal yang digunakan untuk merencanakan pengeluaran kapital. Data anggaran digunakan untuk merencanakan dan mengendalikan aktivitas dalam perusahaan.
g.      Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia
Personel merupakan komponen kunci dalam sistem pengendalian. Kualifikasi mencakup pengalaman, inteligensi, karakter, dedikasi, dan kemampuan kepemimpinan.
Fidelity bonding merupakan satu kontrak dengan perusahaan asuransi yang memberikan jaminan finansial atas kejujuran individu yang namanya termuat di dalam kontrak perjanjian.
Pemisahan Tugas. Pemisahan tugas yang efektif tergantung tingkat kerincian perencanaan prosedur dan kehati-hatian penugasan fungsi-fungsi pada berbagai orang dalam organisasi. Tanggung jawab untuk tugas tertentu dalam suatu organisasi harus secara jelas dirancang dalam deskripsi pekerjaan atau dokumentasi yang lain.
Supervisi merupakan pengawasan langsung kinerja personel oleh seorang karyawan yang diberi tanggungjawab.
Rotasi Pekerjaan dan Vakasi Wajib. Rotasi pekerjaan dan vakasi wajib memungkinkan pemberi kerja untuk mengecek dan memverifikasi pekerjaan karyawan lain pada saat mereka menjalankan tugas mereka selama kurun waktu tertentu.
Pengendalian Ganda. Satu hal yang terkait dengan supervisi langsung adalah konsep pengendalian ganda (penugasan kepada dua individu untuk menjalankan satu pekerjaan yang sama secara harmoni ).
2.2.2.      Penaksiran Resiko
Merupakan proses mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola resiko yang mempengaruhi tujuan perusahaan. Tahapan yang paling kritis dalam menaksir risiko adalah mengidentifikasi perubahan kondisi eksternal dan internal dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan.
2.2.3.      Aktivitias Pengendalian
Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang dibangun untuk membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan dengan baik. Aktivitas pengendalian dapat berupa pengendalian akuntansi yang dirancang untuk memberikan jaminan yang masuk akal atau memadai bahwa tujuan pengendalian tercapai untuk setiap sistem aplikasi yang material dalam organisasi:
a.       Pemisahan Tugas
Pemisahan tugas diperlukan untuk mengurangi peluang seseorang yang ditempatkan dalam suatu posisi pekerjaan tertentu untuk melakukan kecurangan atau kesalahan ketika menjalankan tugas sehari-hari mereka.
b.      Pemisahan Wewenang Pelaksana Transaksi dari Pencatat Transaksi
Pemisahan wewenang pelaksana transaksi dari berbagai pencatat transaksi mengurangi peluang terjadinya kesalahan dan kecurangan melalui dibentuknya independensi akuntabilitas fungsi otorisasi. Jika setiap fungsi di dalam suatu organisasi membuat catatan sendiri-sendiri, maka tidak akan terwujud akuntabilitas. Tidak akan tersedia sarana untuk terwujudnya rekonsiliasi yang independen dan analisis aktivitas fungsi-fungsi. Selain itu, tidak tersedia juga jaminan bahwa semua transaksi telah dicatat.
c.       Pemisahan Wewenang Pelaksana Transaksi dari Penyimpan Kekayaan
Pemisahan wewenang pelaksana transaksi dari penyimpan kekayaan mengurangi peluang terjadinya kesalahan dan kecurangan dengan cara mewujudkan akuntabilitas independen atas penggunaan (penyimpanan) harta.
d.      Pemisahan Pencatat Transaksi dari Penyimpan Kekayaan
Pemisahan pencatat transaksi dengan penyimpan kekayaan mengurangi peluang kesalahan dan kecurangan dengan mewujudkan akuntabilitas yang independen atas penggunaan harta kekayaan organisasi. Otorisasi aktivitas dikomunikasikan kepada mereka yang bertugas mencatat (yaitu bagian akuntansi). Mereka yang bertugas menyimpan harta, selanjutnya akan mengkomunikasikan hasil aktivitas ( transaksi ) kepada bagian pencatat.
e.       Dokumen dan Catatan yang Memadai
Dokumen dan catatan merupakan media fisik yang digunakan untuk menyimpan informasi. Setiap jenis dokumen dan catatan harus dikendalikan dengan cara tertentu yang relevan. Dokumen dan catatan harus diberi nomor urut sebagai sarana akuntabilitas. Dokumen dan catatan harus mudah digunakan dan mudah dipahami oleh pengguna.
f.       Akses Terbatas ke Harta Kekayaan Organisasi
Akses ke kekayaan dibutuhkan pengendalian dan penjagaan fisik yang memadai terhadap akses dan penggunaan harta kekayaan serta catatan (seperti fasilitas yang aman dan otorisasi atas akses ke program komputer dan file data).  Contoh pengamanan secara fisik yang lazim digunakan
·         Cash register dan kotak terkunci
·         Area dengan akses terbatas dan ruang terkunci
·         Satpam
·         Closed circuit TV monitor
·         Sistem alarm
g.      Pengecekan Akuntabilitas dan Tinjauan Kinerja oleh Pihak Independen
Secara berkala, akuntabilits pencatatan harta kekayaan mestinya dibandingkan dengan aktiva yang ada. Contoh pengecekan independen atas kinerja dan penilaian ketepatan catatan harta kekayaan mencakup cek secara klerikal, rekonsiliasi, membandingkan aktiva dengan catatan, pengendalian program komputer, tinjauan manajemen atas laporan rincian saldo rekening, dan tinjauan pengguna atas laporan yang dihasilkan oleh komputer.
h.      Pengendalian Pegolahan Informasi
Pengendalian pengolahan informasi memastikan adanya:
Otorisasi mebatasi pelaksanaan transaksi atas suatu aktivitas oleh sejumlah individu tertentu. Otorisasi atas transaksi dan aktivitas diperlukan untuk membantu manajemen mencapai tujuan pengendalian.
Persetujuan merupakan penerimaan bahwa suatu transaksi boleh diproses  lebih lanjut. Persetujuan penting untuk memastikan bahwa karyawan menjalankan tugas dalam area wewenang mereka.
Kelengkapan dan keakuratan memastikan integritas data dan informasi dalam suatu sistem akuntansi. Kelengkapan dan keakuratan penting untuk memastikan bahwa informasi yang dihasilkan dari suatu sistem memang dapat diandalkan.
2.2.4.      Informasi dan Komunikasi
Informasi mengacu pada  sistem akuntansi organisasi, yang terdiri dari metode dan catatan yang diciptakan untuk mengidentifikasi, merangkai, menganalisis, mengelompokkan, mencatat, dan melaporkan transaksi organisasi dan untuk memelihara akuntabilitas aktiva dan utang yang terkait.
a.    Dokumen Sistem Akuntansi
        Prosedur akuntansi seharusnya ditetapkan dalam manual prosedur akuntansi sehingga kebijakan dan instruksi dapat diketahui secara eksplisit dan diterapkan secara konsisten.
b.   Sistem Akuntansi Double-Entry
        Sistem akuntansi double entry tidak boleh diremehkan karena memiliki peran sebagai alat yang akan menghasilkan serangkaian catatan yang seimbang.
c.    Komunikasi
Komunikasi terkait dengan memberikan pemahaman yang jelas mengenai semua kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengendalian. Komunikasi yang efektif juga membutuhkan aliran arus informasi dalam organisasi yang memadai. Informasi semacam ini dibutuhkan untuk mengevaluasi kinerja, membuat laporan perkecualiandan lain sebagainya.
2.2.5.      Pengawasan
Pengawasan atau monitoring melibatkan proses yang berkelanjutan untuk menaksir kualitas pengendalian internal dari waktu ke waktu serta untuk mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Fungsi audit internal merupakan satu fungsi yang biasanya ada dalam perusahaan besar untuk mengawasi dan mengevaluasi pengendalian secara terus-menerus. Tujuan fungsi audit internal adalah untuk melayani manajemen dengan menyediakan bagi manajemen hasil analisis dan hasil penilaian aktivitas dan sistem seperti:
a.    Sistem informasi organisasi
b.   Struktur pengendalian internal organisasi
c.    Sejauh mana ketaatan terhadap kebijakan operasi, prosedur, dan rencana
d.   Kualitas kinerja personel organisasi   biaya yang terlalu tinggi
3.    PENGENDALIAN DAN PEMROSESAN TRANSAKSI
Merupakan satu prosedur yang dirancang untuk memastikan bahwa elemen proses pengendalian internal diimplementasikan dalam suatu sistem aplikasi tertentu di setiap siklus transaksi organisasi. Pengendalian pemrosesan transaksi mencakup pengendalian umum dan pengendalian aplikasi. Pengendalian umum memengaruhi semua pemrosesan transaksi. Pengendalian aplikasi merupakan pengendalian yang spesifik untuk setiap aplikasi tertentu.
3.1.      Pengendalian Umum
Pengendalian umum mencakup hal-hal berikut :
a.       Perencanaan organisasi pemrosesan data.
Perencanaan organisasi untuk pengolahan data mencakup pemisahan tugas dalam fungsi pemrosesan data dan pemisahan organisasi pemrosesan data dari operasi lain dalam organisasi.
b.      Prosedur operasi secara umum.
Mencakup manual tertulis dan dokumentasi lain yang memuat spesifikasi prosedur yang harus diikuti.
c.       Karakteristik pengendalian peralatan.
Merupakan karakteristik pengendalian yang diinstal di komputer untuk mengidentifikasi penanganan data yang tidak benar atau operasi peralatan yang salah.
d.      Pengendaian akses data dan peralatan.
Mencakup prosedur yang terkait dengan akses fisik ke sistem komputer dan data. Perlu ada prosedur yang memadai untuk melindungi peralatan dan file data dari kerusakan atau dari pencurian.
3.1.1.      Perencaan Organisasi dan Operasi Pemrosesan Data
Pemisahan Tugas Tanggung Jawab untuk otorisasi, penyimpanan dan pemegang catatan untuk menangani dan memproses transaksi dipisahkan.
Contoh : Fungsi pustakawan menjaga manual program komputer dan dokumentasi, tetapi tidak memiliki akses atau otorisasi untuk mengoperasikan peralatan komputer.
3.1.2.      Pemisahan Tugas dalam Pemrosesan Data.
Fungsi pemrosesan data harus tesentralisasi. Pemrosesan data komputer semestinya tidak memiliki wewenang untuk memelihara atau memiliki otoritas atas aktiva selain aktiva pemrosesan data.
3.2.      Pengendalian Aplikasi
Pengendalian aplikasi dikelompokkan menjadi pengendalian input, pengendalian proses, serta pengendalian output. Pengelompokan ini terkait dengan langkah-langkah dalam siklus pemrosesan data.
a.          Pengendalian Input
Pengendalian input dirancang untuk mencegah atau mendeteksi kesalahan pada tahap penginputan data.
b.         Pengendalian Proses
Pengendalian proses dirancang untuk memberikan keyakinan bahwa pemrosesan telah terjadi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dan bahwa tidak ada transaksi yang terlewat yang tidak diproses atau bahwa tidak ada transaksi tambahan yang mestinya tidak ikut diproses.
c.          Pengendalian Output
Pengendalian output dirancang untuk memastikan bahwa input dan proses yang telah dijalankan menghasilkan output yang valid dan bahwa output telah didistribusikan secara tepat.
d.         Pengendalian Preventif, Detektif, dan Korektif
Pengendalian preventif, berperan untuk mencegah terjadinya kesalahan dan kecurangan. Pengendalian detektif, berperan untuk mengungkapkan kesalahan dan kecurangan yang telah terjadi. Pengendalian korektif, berperan untuk membetulkan kesalahan yang telah terjadi.
e.          Mengkomunikasikan Tujuan Pengendalian Internal
Pengendalian internal adalah manusia. Sebuah proses pengendalian internal merupakan proses seseorang mengecek pekerjaan orang lain.
f.          Tujuan dan Pola Perilaku
Sistem informasi memiliki beberapa tujuan; salah satu tujuan utamanya adalah produktivitas. Reliabilitas informasi dan menjaga kekayaan organisasi juga merupakan tujuan yang penting.
4.    ANALISIS PROSES PENGENDALIAN INTERNAL
4.1.      Teknik Analitik
Kuesioner pengendalian internal merupakan salah satu teknik analitik yang lazim digunakan untuk menganalisis pengendalian internal. Kuesioner ini sering menjadi formulir standar di kantor akuntan publik, departemen audit internal, dan organisasi lain yang secara rutin terlibat dengan tinjauan pengendalian internal. Flowchart analitik juga bisa digunakan dalam analisis pengendalian internal, khususnya jika analisis tersebut melibatkan aplikasi sistem komputer. Matriks pengendalian aplikasi berguna sebagai formulir analisis yang relevan dengan tinjauan pengendalian internal internal suatu sistem informasi.


DAFTAR PUSTAKA
            Bodnar, George H dan William S Hopwood (1997).Sistem Akuntansi dan Informasi edisi.Yogyakarta: Andi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar