Jumat, 13 Maret 2015

PENGAUDITAN SAP 4


LAPORAN AUDITOR

            Laporan auditor adalah laporan yang berisi pendapat seorang auditor berupa pernyataan kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pendapat tersebut sangat penting dalam proses audit atapun proses atestasi lainnya karena merupakan informasi utama yang dapat diinformasikan kepada pemakai mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya.


            Laporan auditor tersebut harus memenuhi empat standar pelaporan, yaitu :
a)      Standar pelaporan pertama :
Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
b)      Standar pelaporan kedua :
Laporan auditor harus menunjukkan keadaan yang di dalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya.
c)      Standar pelaporan ketiga :
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
d)     Standar pelaporan keempat :
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikulnya.

Keempat standar pelaporan dalam standar auditing dipenuhi dengan diterbitkannya sebuah laporan auditor dalam bentuk yang sesuai dengan keadaannya (Laporan Bentuk Baku). Laporan tersebut terdiri dari :
a)      Paragraf pendahuluan (atau awal)
b)      Paragaraf lingkup (atau tengah)
c)      Paragraf pendapat (atau kesimpulan)

Kalimat dalam laporan menggunakan kalimat-kalimat standar (baku), namun bisa agak sedikit bervariasi tergantung pada laporan keuangan yang diaudit, apakah untuk satu periode akuntansi atau untuk laporan keuangan komparatif.

Meskipun pada umumnya auditor menerbitkan laporan bentuk baku, namun dalam keadaan-keadaan tertentu auditor harus mengeluarkan laporan dengan bentuk menyimpang dari laporan bentuk baku. Penyimpangan dari laporan bentuk baku terjadi apabila auditor berkesimpulan bahwa :
a)      Perlu ditambahkan paragraf penjelasan pada laporan auditor dengan tetap memberi pendapat wajar tanpa pengecualian, atau
b)      Harus diberikan jenis pendapat yang lain atas laporan keuangan.

A. JENIS-JENIS LAPORAN AUDITOR
            Jenis-jenis laporan auditor dibedakan atas pendapat (opini) yang terkandung di dalamnya. Jenis opini yang berlaku secara umum dapat dibagi dalam empat jenis, yaitu :

1)      Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) - Unqualified Opinion
Jenis opini  ini menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2)      Wajar Dengan Pengecualian (WDP) - Qualified Opinion
Opini ini menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum, kecuali untuk dampak hal-hal yang yang dikecualikan.
Hal-hal yang dimaksud antara lain :
a.       Klien membatasi ruang lingkup audit
b.      Kondisi-kondisi yang ada diluar kekuasaan klien ataupun auditor menyebabkan auditor tidak dapat melaksanakan prosedur auditing
c.       Laporan keuangan tidak disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan
d.      Ketidak-konsistenan penerapan standar akuntansi keuangan yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan.

3)      Tidak Wajar (TW) – Adverse
Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan opini ini adalah ketika auditor, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai, menyimpulkan bahwa penyimpangan dari prinsip akuntansi (salah saji) yang ditemukan, baik secara individual maupun agregat/bertingkat, adalah material dan pervasive (berdampak menyeluruh) pada laporan keuangan.

4)      Tidak Memberikan Pendapat (TMP) – Disclaimer
Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan opini ini adalah adanya pembatasan lingkup yang luar biasa sehingga auditor tidak dapat memperoleh bukti yang cukup memadai sebagai dasar menyatakan opini.

B. PERSYARATAN MASING-MASING AUDITOR
1)      Prinsip Akuntansi Berlaku Umum yang Ditetapkan IAI
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menetapkan sejumlah prinsip akuntansi yang diumumkan sebagai Standar Akuntansi Keuangan (SAK), yang disebut juga sebagai prinsip akuntansi yang ditetapkan IAI. Apabia prinsip akuntansi yang ditetapkan IAI cocok untuk diterapkan pada laporan keuangan perusahaan, maka prinsip-prinsip tersebut harus diikuti dalam memenuhi standar pelaporan.

2)      Perubahan Akuntansi yang Mempengaruhi Konsistensi
Perubahan dalam suatu prinsip akuntansi timbul sebagai akibat penerapan prinsip akuntansi berlaku umum yang berbeda dari prinsip akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan pada tahun sebelumnya.
Perubahan akuntansi yang mempengaruhi konsistensi, meliputi :
a.       Perubahan dalam prinsip akuntansi itu sendiri
b.      Perubahan dalam metode penerapan suatu prinsip
c.       Perubahan dalam satuan usaha yang membuat laporan.
Sedangkan perubahan yang tidak mempengaruhi konsistensi meliputi :
a.       Perubahan dalam estimasi akuntansi
b.      Koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi
c.       Perubahan dalam klasifikasi dan klasifikasi kembali
d.      Transaksi atau kejadian yang sangat berbeda
e.       Perubahan atas kondisi perusahaan
f.       Perubahan berupa adanya produk baru
g.      Bencana alam

3)      Pengungkapan Informatif
Pengungkapan informatif menyangkut hal-hal material yang berkaitan dengan bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan serta catatan atas laporan keuangan yang menyertainya.

4)      Pernyataan Suatu Pendapat
Syarat ini mengharuskan auditor untuk menyatakan suatu pendapat atau pernyataan bahwa suatu pendapat tidak dapat diberikan. Apabila pernyataan pendapat tidak dapat diberikan, alasannya harus dinyataka dalam laporan auditor.

5)      Laporan Keuangan
Laporan keuangan bisa berupa laporan yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan secara individual atau berupa laporan konsolidasi. Selain itu laporan bisa diterbitkan untuk satu periode akuntansi atau bisa juga disajikan secara komparatif.
Pendapat auditor harus dinyatakan (atau menolak untuk menyatakan pendapat) atas laporan keuangan yang disebutkan dengan jelas dalam paragraf pendahuluan dalam laporan auditor.


6)      Karakter Suatu Audit
Dalam melakukan auditing, auditor diminta untuk menunjukkan dalam laporannya petunjuk yang jelas mengenai karakter suatu audit. Suatu audit meliputi :
a.       Pemeriksaan bukti-bukti berdasarkan pengujian
b.      Menilai prinsip akuntansi yang digunakan, estimasi signifikan yang digunakan manajemen, dan penyajian laporan keuangan sebagai keseluruhan.

7)      Keterkaitan dengan Laporan Keuangan
Seorang akuntan publik terkait dengan laporan keuangan auditan apabila ia telah ditunjuk untuk mengaudit laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan IAI dan telah menerapkan prosedur-prosedur auditing atas laporan keuangan tersebut.

8)      Tingkat Tanggungjawab
Auditor harus menunjukkan tingkat tanggung jawabnya atas audit dan pendapat yang diberikannya.

C. KRITERIA WAJAR DALAM LAPORAN AUDITOR
Ada beberapa kondisi laporan keuangan yang harus dipenuhi untuk menilai laporan keuangan yang dianggap menyajikan secara wajar, yaitu:
a.       Standar akuntansi keuangan digunakan sebagai pedoman untuk menyusun laporan keuangan,
b.      Perubahan standar akuntansi keuangan dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
c.       Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

Suatu paragraf penjelas dalam laporan audit diberikan oleh auditor dalam keadaan tertentu yang mungkin mengharuskannya melakukan hal tersebut, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan. Keadaan tertentu yang di maksud adalah :
a)      Pendapat wajar sebagian didasarkan atas laporan audit lain.
b)      Untuk mencegah agar laporan keuangan tidak menyesatkan karena keadaan yang luar biasa, laporan disajikan menyimpang dari prinsip akuntansi.
c)      Adanya kesangsian terhadap kelangsungan hidup entitas/organisasi.
d)     Diantara dua periode terdapat perubahan yang material dalam penggunaan prinsip akuntansi.
e)      Keadaan tertentu yang berhubungan dengan laporan audit atas laporan keuangan komparatif.
f)       Data keuangan yang diharuskan Bapepam tidak disajikan.
g)      Informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia yang penyajiannya menyimpang jauh dari pedoman dan auditor tidak dapat menghilangkan keraguan yang besar apakah informasi tambahan tersebut sesuai dengan panduan.
h)      Informasi lain dalam suatu dokumen yang berisi laporan keuangan yang diaudit secara material tidak konsisten dengan informasi yang disajiakan dalam laporan keuangan.















INTERNAL AUDITOR

A. PROFESI INTERNAL AUDITOR
1)      Pengertian Internal Auditor
Internal auditor ialah orang atau badan yang melaksanakan aktivitas internal
auditing. Internal auditor senatiasa berusaha untuk menyempurnakan dan melengkapi setiap kegiatan dengan penilaian langsung atas setiap bentuk
pengawasan untuk dapat mengikuti perkembangan dunia usaha yang semakin kompleks.

Pemeriksaan intern yang dilakukan oleh internal auditor merupakan suatu alat pengawasan yang penting untuk mengukur dan menilai keefektifan pengawasan-pegawasan yang ada di dalam perusahaan.

2)      Fungsi Internal Auditor
Fungsi utama internal auditor adalah untuk menilai apakah pengawasan intern telah berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Adapun fungsi internal auditor secara menyeluruh mengenai pelaksanaan kerja internal auditing adalah :
a.       Membahas dan menilai kebaikan dan ketepatan pelaksanaan pengendalian akuntansi, keuangan, serta operasi.
b.      Meyakinkan apakah pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan, rencana, dan prosedur yang ditetapkan.
c.       Meyakinkan apakah kekayaan perusahaan dipertanggungjawabkan dengan baik dan dijaga dengan aman terhadap segala kemungkinan resiko kerugian.
d.      Meyakinkan tingkat kepercayaan akuntansi dan cara lainnya yang dikembangkan dalam organisasi.
e.       Menilai kualitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan.


3)      Tujuan Internal Auditor
a.       Membantu manajemen untuk mendapatkan administrasi perusahaan yang paling efisien dengan memuat kebijaksanaan operasi kerja perusahaan.
b.       Menentukan kebenaran dari data keuangan yang dibuat dan kefektifan dari prosedur intern.
c.       Memberikan dan memperbaiki kerja yang tidak efisien.
d.      Membuat rekomendasi perubahan yang diperlukan dalam beberapa fase kerja.
e.       Menentukan sejauh mana perlindungan pencatatan dan pengamanan harta kekayaan perusahaan terhadap penyelewengan.
f.       Menetukan tingkat koordinasi dan kerja sama dari kebijaksanaan manajemen.

4)      Posisi Internal Auditor Dalam Struktur Organisasi
Secara garis besar ada tiga alternatif posisi atau kedudukan dari internal auditor dalam struktur organisasi perusahaan yaitu :
a.       Berada dibawah Dewan Komisaris
Dalam hal ini internal auditor bertanggung jawab pada Dewan Komisaris. lni disebabkan karena bentuk perusahaan membutuhkan pertanggungjawaban yang lebih besar, termasuk direktur utama dapat diteliti oleh internal auditor.
b.      Berada dibawah Direktur Utama
Menurut sistem ini star internal auditor bertanggung jawab pada direktur
utama. Sistem ini biasanya jarang dipakai mengingat direktur utama terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang berat. Jadi kemungkinan tidak sempat untuk mempelajari laporan yang dibuat internal auditor.
c.       Berada dibawah Kepala Bagian Keuangan
Menurut sistem ini kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi
perusahaan berada dibawah koordinasi kepala bagian keuangan. Bagian internal auditor bertanggung jawab sepenuhnya kepada kepala keuangan atau ada yang menyebutnya sebagai Controller.


B. HUBUNGAN INTERNAL AUDITOR DENGAN EKSTERNAL/INDEPENDENT AUDITOR
1)      Perbedaan Internal Auditor dan Eksternal Auditor

Internal
Eksternal
Output
Rekomendasi
Opini/pendapat
Independensi
Harus independen terhadap aktivitas yang diaudit
Harus independen terhadap manajemen
Klien
Manajemen
Pemegang saham, komisaris, dan pihak eksternal perusahaan
Pelaporan
Kepada direksi
Kepada stakeholders

2)      Manfaat Adanya Internal Auditor Bagi Eksternal Auditor
a.       Independensi atau objektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan manajemen langsung.
b.      Pemahaman mendalam yang dimiliki oleh internal auditor atas kegiatan operasional perusahaan.
c.       Kesamaan profesi yang dimiliki oleh internal auditor dan eksternal auditor sehingga akan memudahkan komunikasi keduanya.

Beberapa hal yang menentukan terjalinnya kerja sama yang padu antara internal auditor dengan eksternal auditor yaitu :
a.       Tingkat pemahaman eksternal auditor atas status internal auditor.
b.      Adanya peraturan dan standar yang mendasarinya.
c.       Tingkat perbedaan cakupan kegiatan internal auditor dengan cakupan eksternal auditor.
d.      Objektivitas internal auditor di mata eksternal auditor.

Dalam standar audit di Indonesia, kerja sama antar internal auditor dengan eksternal auditor dimungkinkan dengan beberapa persyaratan berupa :
a.       Kompetensi internal auditor.
b.      Pemberian tujuan audit kepada internal auditor oleh eksternal auditor di awal proses audit.
c.       Pelaporan langsung kepada eksternal auditor.






















DAFTAR PUSTAKA

AL. Haryono Jusup. 2001. Auditing Buku I. Yogyakarta : BP.STIE YKPN.
http://www.akuntansi.pemerintahan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar