Jumat, 13 Maret 2015

BISNIS INTERNASIONAL SAP 5



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana yang menonjol adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai pengangguran, inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan, kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan ekonomi menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat menjadi salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa tersebut, meskipun tidak bisa dinafikan ukuran-ukuran yang lain
Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi mesin bagi pertumbuhan ( trade as engine of growth, Salvatore, 2004). Jika aktifitas perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan. Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an Indonesia menetapkan kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian, kebijakan tersebut menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan.

 
1.2.Rumusan Masalah
1.2.1.      Apa yang dimaksud dengan Merkantilisme  
1.2.2.      Apa yang dimaksud dengan Keunggulan Absolut    
1.2.3.      Apa yang dimaksud dengan Keunggulan Komparatif          
1.2.4.      Apa yang dimaksud dengan Proporsi Faktor
1.2.5.      Apa yang dimaksud dengan Teori Siklus Hidup Produk Internasional
1.3.Tujuan
1.3.1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian Merkantilisme           
1.3.2.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian Keunggulan Absolut
1.3.3.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian Keunggulan Komparatif      
1.3.4.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian Proporsi Faktor
1.3.5.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian Teori Siklus Hidup Produk Internasional
BAB II
PEMBAHASAN

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

1.      MERKANTILISME
a.       Merkantilisme menyatakan bahwa negara harus mengumpulkan kekayaan keuangan, biasanya dalam bentuk emas, dengan mendorong ekspor dan membatasi impor
b.      Merkantilisme mengasumsikan bahwa sebuah bangsa meningkatkan kekayaan hanya dengan mengorbankan negara lain – a zero sum game – keadaan dimana satu negara diuntungkan dan negara lainnya dirugikan.
c.       Praktek merkantilisme bersandar pada tiga pilar penting: surplus perdagangan, intervensi pemerintah, dan kolonialisme
·         Elemen kunci pertama dari merkantilisme adalah untuk meningkatkan kekayaan dengan mempertahankan surplus perdagangan, kondisi yang terjadi ketika nilai ekspor negara lebih besar dari nilai impornya. Dalam merkantilisme, surplus perdagangan berarti bahwa negara mengambil di lebih banyak emas pada penjualan ekspornya daripada membayar untuk impor
·         Elemen kunci yang kedua adalah pemerintah untuk secara aktif campur tangan dalam perdagangan internasional untuk mempertahankan surplus, baik dengan melarang impor tertentu atau memberlakukan berbagai pembatasan seperti tarif atau kuota. Pada saat yang sama, pemerintah mensubsidi industri yang berbasis di dalam negeri untuk mendorong ekspor
·         Elemen kunci yang ketiga adalah akuisisi wilayah (koloni) untuk berperan sebagai sumber bahan baku murah dan sebagai pasar untuk barang jadi yang mahal. Perdagangan antara negara merkantilis dengan koloni mereka adalah sumber besar dari keuntungan untuk kekuatan merkantilis. Koloni menerima harga rendah untuk bahan baku dasar tetapi membayar harga tinggi untuk barang jadi



Kelemahan merkantilisme:
ü  Masalah utama dengan merkantilisme adalah bahwa, jika semua negara melakukan barikade pasar untuk impor dan mendorong ekspor mereka ke negara lain, maka perdagangan internasional akan menjadi sangat terbatas
ü  Selain itu, membayar kecil kepada koloni untuk ekspor mereka, tapi mengenakan harga yang tinggi untuk impor menggangu pertumbuhan ekonomi mereka.
ü  Aspek-aspek negative dari merkantilisme diperjelas oleh teori perdagangan yang dikembangkan pada tahun 1700an, yaitu keunggulan absolut

2.      KEUNGGULAN ABSOLUT
Kemampuan suatu bangsa untuk memproduksi suatu barang lebih efisien dari bangsa lain disebut keunggulan absolut, yang menganjurkan untuk membiarkan kekuatan pasar mendikte arus perdagangan
Keuntungan absolut memungkinkan suatu negara untuk memproduksi barang dimana ia memegang keunggulan absolut dan perdagangan dengan bangsa lain untuk mendapatkan barang yang diperlukan tapi tidak diproduksi – disebut a positive sum game – memberikan keuntungan bagi semua yang terlibat dalam perdagangan
Misal: Inggris adalah produsen tekstil paling efisien pada masanya karena mempunyai dasar proses manufaktur yang unggul. Prancis memiliki industri wine yang paling efisien di dunia karena kombinasi iklim, tanah dan keahlian yang terbaik.Jadi, Inggris memiliki keunggulan absolut dalam produksi tekstil, sedang Prancis memiliki keunggulan absolut dalam produksi wine.Menurut teori keunggulan absolut, Inggris harus mengkhususkan diri dalam produksi tekstil, sedang Prancis mengkhususkan diri dalam produksi wine.Inggris bisa mendapatkan semua wine yang dibutuhkan dengan menjual tekstil untuk Prancis dan membeli wine dalam pertukaran.
Demikian pula, Prancis bisa mendapatkan semua tekstil yang dibutuhkan dengan menjual wine ke Inggris dan membeli tekstil dalam pertukaran. Argumen dasar dalam teori keunggulan absolut menegaskan bahwa negara tidak boleh memproduksi barang-barang yang ada di negerinya dimana barang tersebut bisa dibeli dengan biaya lebih rendah di negara lain. Dengan mengkhususkan diri dalam produksi barang dimana masing-masing memiliki keunggulan absolut, kedua negara memperoleh manfaat dengan terlibat dalam perdagangan internasional.
Tetapi ada satu masalah potensial – apa yang terjadi jika suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut dalam produksi produk apapun? Untuk menjawab pertanyaan ini kita melihat perpanjangan dari teri keunggulan absolut: teori keunggulan komparatif

3. KEUNGGULAN KOMPARATIF
Sebuah negara memegang keunggulan komparatif dalam produksi sebuah barang ketika tidak mampu untuk memproduksi barang lain lebih efisien dari negara lainnya, tetapi mampu memproduksi barang lebih efisien daridapa barang lainnya.
Keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu meproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya lebih murah dari negara lainnya. Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.
Contoh: asumsikan Ghana lebih efisien dalam produksi, baik kakao maupun padi, Ghana memiliki keunggulan absolut dalam produksi kedua barang tersebut. Di Ghana, dibutuhkan 10 sumber daya untuk memproduksi 1 ton kakao dan 13,3 sumber daya untuk memproduksi 1 ton beras. Dengan demikian, jika dengan 200 unit sumberdaya, Ghana dapat menghasilkan 20 ton kakao tanpa beras dan 15 ton beras tanpa kakao.
Di Korea Selatan, dibutuhkan 40 sumber daya untuk memproduksi 1 ton kakao dan 20 sumber daya untuk memproduksi 1 ton beras. Dengan demikian, dengan jumlah sumber daya 200, Korea Selatan dapat menghasilkan 5 ton kakao tanpa beras dan 10 ton beras tanpa kakao.
Asumsikan tanpa adanya perdagangan, setiap negara menggunakan setengah dari sumber dayanya untuk memproduksi kako dan setengah untuk menghasilkan padi. Dengan demikian, tanpa perdagangan, Ghana akan menghasilkan 10 ton kakao dan 7,5 ton beras. Sementara Korea Selatan akan menghasilkan 2,5 ton kakao dan 5 ton beras.
Lalu, mengingat keunggulan produksi Ghana baik dalam kakao maupun beras, mengapa Ghana harus berdagang dengan Korea Selatan?
Meskipun Ghana memiliki keunggulan absolut dalam produksi, baik kakao maupun beras, ataupun memiliki keunggulan komparatif hanya dalam produksi kakao (Ghana menghasilkan 4x lebih banyak kakao daripada Korsel tetapi hanya 1,5x beras), Ghana relative lebih efisien dalam memproduksi kakao daripada memproduksi beras.
Tanpa perdagangan, setiap negara harus mengkonsumsi apa yang dihasilkannya. Dengan terlibat dalam perdagangan, kedua negara dapat meningkatkan produksi gabungan mereka, dalam hal ini beras dan kakao, sehingga konsumen di kedua negara dapat mengkonsumsi lebih, baik kakao maupun beras.
Jadi dalam teori keunggulan komparatif, adalah masuk akal bagi suatu negara untuk melakukan spesialisasi dalam memproduksi suatu barang yang dapat dihasilkan secara lebih efisien, disamping membeli produk yang dihasilkan secara kurang efisien dari negara-negara lainnya, bahkan jika hal itu berarti membeli barang dari negara lain yang dapat dihasilkan sendiri secara lebih efisien.
Teori keunggulan komparatif menyarankan perdagangan bebas yang tidak ada hambatan mengarahkan pada peningkatan jumlah produksi dunia; dan hal ini, merupakan perdagangan yang memberikan dampak positif layaknya “positive-sum game”.
Teori keunggulan komparatif berpendapat suatu negara yang terbuka bagi perdagangan bebas akan merangsang pertumbuhan ekonomi, yang mana perdagangan akan menghasilkan keuntungan yang dinamis.

4.      PROPORSI FAKTOR
Teori proporsi faktor menyatakan bahwa negara-negara memproduksi and mengekspor barang yang menggunakan faktor produksi yang paling berlimpah dan mengimpor barang yang menggunakan faktor produksi yang terbatas di negaranya
Teori proporsi faktor berbeda dari teori keunggulan absolut dan keunggulan kompartaif.Teori proporsi faktor mengatakan sebuah negara mengkhususkan diri dalam memproduksi dan mengekspor barang yang menggunakan faktor produksi yang paling berlimpah dan dengan demikian termurah – bukan barang yang lebih produktif atau efisien.
Contoh:  Amerika Serikat telah lama menjadi eksportir barang-barang pertanian, mencerminkan kelimpahan yang tidak biasa atas tanah yang subur.
Sebaliknya, Cina unggul dalam ekspor barang yang diproduksi di industry padat karya.Hal ini mencerminkan kelimpahan relative Cina terhadap tenaga kerja yang murah.
Amerika, yang tidak memiliki tenaga kerja murah yang berlimpah, telah mnejadi importer utama dari barang-barang Cina.

5.      TEORI SIKLUS HIDUP PRODUK INTERNASIONAL
Teori siklus hidup produk internasional mengatakan bahwa perusahaan akan mulai mengekspor produk dan kemudian melakukan investasi asing langsung selagi produk bergerak melalui siklus hidupnya. Teori ini juga mengatakan bahwa, untuk sejumlah alasan, ekspor suatu negara pada akhirnya akan menjadi impornya

Tahapan siklus hidup produk:
a.       Pada tahap 1, tahap produk baru, daya beli yang tinggi dan permintaan dari pembeli di negara industry mendorong perusahaan untuk merancang dan memperkenalkan konsep baru. Karena tingkat permintaan dalam pasar domestic tidak diketahui secara pasti pada tahap ini, perusahaan mempertahankan volume produksi yang rendah dan berbasis di negara asal
b.      Dalam tahap 2, tahap kedewasaan, pasar domestic dan pasar luar negei telah sepenuhnya sadar akan keberadaan produk dan manfaatnya. Permintaan meningkat dan berkelanjutan selama periode waktu yang cukup panjang.Karena pangsa pasar yang semakin besar, perusahaan berinovasi dengan memperkenalkan fasilitas produksi di negara dengan permintaan tertinggi. Menjelang akhir tahap ini, produk mulai menghasilkan penjualan di negara berkembang dan mungkin beberapamanufaktur ditetapkan disana
c.       Pada tahap 3, tahap standardisasi produk, persaingan dari perusahaan lain yang menjual produk serupa menekan perusahaan untuk menurunkan harga untuk mempertahankan tingkat penjualan. Seiring dengan pasar yang menjadi lebih sensitive terhadap harga, perusahaan mulai mencari secara agresif untuk basis produksi berbiaya rendah di negara berkembang untuk memasok pasar di seluruh dunia.Selanjutnya, karena sebagian besar produksi sekarang dilakukan diluar negari, permintaan di dalam negeri dipasok dari impor dari negara berkembang dan negara industry lainnya.





























BAB III.
PENUTUP

KESIMPULAN

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama.Faktor-faktor untuk melakukan perdagangan internasional yaitu memenuhi kebutuhan, memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara, perbedaan kemampuan, kelebihan produk dalam negeri, perbedaan keadaan, kesamaan selera, membuka kerja sama, dan era globalisasi. Sedangkan manfaat perdagangan internasional antara lain memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri, memperoleh keuntungan dari spesialisasi, memperluas pasar dan menambah keuntungan, transfer teknologi modern dan perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern















DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar