Sabtu, 21 Februari 2015

TEORI PASAR MODAL SAP 2



1.      PASAR PRIMER ( PERDANA)
Pasar Perdana adalah penawaran saham pertama kali dari emiten kepada para pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak penerbit (issuer) sebelum saham tersebut belum diperdagangkan di pasar sekunder. Biasanya dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 6 hari kerja. Harga saham di pasar perdana ditetukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang go public berdasarkan analisis fundamental perusahaan yang bersangkutan. Dalam pasar perdana, perusahaan akan memperoleh dana yang diperlukan. Perusahaan dapat menggunakan dana hasil emisi untuk mengembangkan dan memperluas barang modal untuk memproduksi barang dan jasa. Selain itu dapat juga digunakan untuk melunasi hutang dan memperbaiki struktur pemodalan usaha. Harga saham pasar perdana tetap, pihak yang berwenang adalah penjamin emisi dan pialang, tidak dikenakan komisi dengan pemesanan yang dilakukan melalui agen penjualan.

 
Fungsi Pasar Perdana
1. Harga saham tetap
2. Tidak dikenakan komisi
3. Hanya untuk pembelian saham
4. Pemesanan dilakukan melalui Agen Penjual
5. Jangka waktu terbatas

2.      PASAR SEKUNDER
Pasar sekunder adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli saham diantara investor setelah melewati masa penawaran saham di pasar perdana, dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari setelah ijin emisi diberikan maka efek tersebut harus dicatatkan di bursa. Dengan adanya pasar sekunder para investor dapat membeli dan menjual efek setiap saat. Sedangkan manfaat bagi perusahaan, pasar sekunder berguna sebagai tempat untuk menghimpun investor lembaga dan perseorangan.
Fungsi Pasar Sekunder:
1. Harga berfluktuasi sesuai kekuatan pasar
2. Dibebankan komisi untuk pembelian maupun penjualan
3. Pemesanan dilakukan melalui Anggota Bursa
4. Jangka waktu tidak terbatas

3.      PASAR MODAL INDONESIA
3.1. Sejarah Pasar Modal Indonesia
Periode Pertama ( 1912 – 1942) : Periode Jaman Belanda
Pada 14 Desember 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di Jakarta ( Vereniging Voor Effecttenhandel) yg merupakan cikal bakal pasar modal pertama di Indonesia. Setelah Perang Dunia I, Pasar Modal di Surabaya mendapat giliran dibuka pada tanggal 1 Januari 1925 dan disusul di Semarang pada tanggal 1 agustus 1925. Karena masih jaman penjajahan Belanda dan pasar modal ini didirikan oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang diperdagangkan disana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan aliansinya yg tergabung dalam Dutch east Indies Trading Agencies. Pasar Modal iniberoperasi sampai kedatangan Jepang di Indonesia tahun 1942.
Periode Kedua (1952-1960) Periode Orde Lama
Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September 1951 dikeluarkan UU Darurat No. 12 yg kemudian dijadikan UU No. 15/1952 tentang pasar Modal. Juga melalui keputusan Menteri keuangan No. 289737/U.U tanggal 1 November 1951, BEJ akhirnya dibuka kembali pada tanggal 3 Juni 1952. Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi pemerintah yg sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan yang lain adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yg dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari keluar negeri.
Periode Ketiga ( 1977-1988) : Periode Orde Baru
      BEJ diresmikan kembali pada tanggal 10 Agustus 1977 dalam periode orde baru sebagai hasil dari Keputusan Presiden No. 52 tahun1976. Keputusan ini menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan Pembina Pasar Modal, pembentukan Badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM) dan PT. Danareksa. PT. Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yg tercatat di BEJ. Penerbitan Saham Perdana disetujui pada tanggal 6 Juni 1977. Periode ini disebut juga periode tidur panjang karena hanya sedikit sekali perusahaan yg tercatat di BEJ, yaitu hanya 24 perusahaan (mulai tahun 1985-1988 tidak ada perusahaan yg Go Public). Kurang menariknya pasar modal pada periode ini dari segi investor mungkin disebabkan oleh tidak dikenakannya pajak atas bunga deposito


Periode Keempat (1988-Mei 1995) : Periode bangun dari Tidur Panjang
Mulai tahun 1988 sampai 1990 jumlah perusahaan yg terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 128, sampai dengan akhir tahun 1994 jumlah perusahaan yg sudah IPO menjadi 225,periode ini juga dikenal sebagai periode lonjakan IPO. Pada tahun 1991, BEJ diswastakan, dan sebagai konsekuensinya, BAPEPAM bukan lagi sebagai pelaksana pasar modal tetapi lebih ke pengawas pelaksanaan pasar modal, sehingga BAPEPAM dari Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Periode ini  juga dicatat sebagai priode kebangkitan dari Bursa efek Surabaya (BES) pada 6 Juni 1989.
            Periode Kelima (Mulai Mei 1995) : Periode Otomatisasi
      BEJ memutuskan untuk mengotomatisasi kegiatan transaksi di bursa karena peningkatan kegiatan transaksi yg sudah melebihi kapasitas manual. JATS (Jakarta Automatic Trading System) merupakan sistem otomatisasi yg diterapkan di BEJ dan mulai dioperasikan 22 mei 1995.
            Periode keenam (Mulai Agustus 1997-September 1998) : Krisis Moneter
      Agustus 1997 krisis moneter melanda negara-negara Asia termasuk Indonesia, Malaysia, Korea Selatan dan Singapura. Hanya ada 18 perusahaan yg melakukan IPO

3.2. BAPEPAM – LK Dan OJK
                  Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang selanjutnya dalam peraturan ini disebut Bapepam-LK merupakan salah satu badan dibawah Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan kegiatan sehari-hari pasar modal serta merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di  lembaga keuangan, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
                  Otoritas Jasa Keuangan merupakan lembaga Independen yang menggantikan tugas BAPEPAM-LK yang dahulu berada dibawah Kementerian Keuangan. OJK mulai bertugas sejak 1 Januari 2013, sehingga Bapepam-LK dibubarkan. Menurut Pengamat Ekonomi, Seto Wardono, berpindahnya wewenang ini tidak akan membawa dampak yang besar terhadap dunia pasar modal karena kinerja OJK sebenarnya sama saja dengan Bapepam-LK walaupun akan membawa perubahan dan perbedaan sedikit. UU OJK sendiri telah disahkan pada 2010 lalu yang  mengamanatkan kepada OJK untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga keuangan baik sektor perbankan, sektor pasar modal maupun sektor non perbankan. Pada pertengahan 2011 lalu, Kemenkeu bersama DPR melakukan seleksi pemilihan Ketua OJK beserta Dewan Komisionernya. Sesuai amanat UU, OJK mulai menjalankan tugas dan fungsinya melakukan pengawasan kepada pasar modal. Untuk perbankan, pengawasan akan dilakukan pada 2014 nanti.

3.3. Prosedur Pendaftaran
1.      Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka Penawaran Umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu:
2.      Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif.
3.      Tahap Penawaran Saham
Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk. Masa Penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Perlu diingat pula bahwa tidak seluruh keinginan investor terpenuhi dalam tahapan ini. Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana sebanyak 100 juta saham sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150 juta saham. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di Bursa Efek
4.      Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek
Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

3.4. Sistem perdagangan
Proses pembelian saham secara singkat dapat di uraikan sebagai berikut:
a.       Investor (beli) menghubungi perusahaan efek/pilanag diamana ia tercatat sebagai nasabahnya.
b.      Instruksi tersebut disampaikan trader ke perusahaan efek di lantai pusat (trading floor).
c.       Trader memasukan instruksi tersebut ke dalam sistem komputer perdagangan ke BEJ yang di sebut jakarta automatic trading system (jats). Sistem tersebut secara otomatis menggunakan mekanisme tawar menawar secara terus menerus, sehingga untuk pembelian akan diperoleh harga pasar terendah, sebaliknya untuk penjualan akan di peroleh harga pokok tertinggi , suatu transaksi jual beli di katakan berhasil jika terjadi kecocokan antara penawaran jual dan penawaran beli.  
Proses Penjualan Saham
a.       Prosedur relatif sama dengan proses pembelian saham namun untuk proses penjualan saham pialang akan memeriksa investor atas saham masuk terlebih dahulu sebelum perintah jual di laksanakan
b.      Perdagangan saham di BEJ (transaksi bursa) dapat dilakukan melalui salah satu dari 3 pasar berikut :
c.       Pasar Reguler : Pasar dimana perdagangan di laksanakan hari bursa ke tiga (3) setelah terjadinya transaksi ( T+3 )
d.      Pasar Reguler Tunai : Pasar dimana perdagangan dilaksanakan melalui JATS dan penyelesaiannya di lakukan pada hari bursa yang sama dengan terjadinya transaksi bura (T+O)

e.       Pasar Negosiasi : Pasar dimana perdagangan di laksanakan berdasarkan tawar menawar langsung secara individual dan tidak secara lelag yang berkesinambungan dan penyelesaian nya dapat di lakukan berdasarkan kesepakatan penjual dan pembeli selanjutnya hasil dari kesepakatan tersebut di lakukan melalui proses JATS.
Transaksi bursa umumnya di lakukan di pasar reguler, kecuali penjual atau pembeli

3.5.Indeks pasar
3.6. Penyelesaian transaksi
 Kliring adalah proses penentuan hak dan kewajiban yang timbul dari Transaksi Bursa
Netting adalah kegiatan Kliring yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi setiap Anggota Kliring untuk menyerahkan atau mimenerima saldo efek tertentu untuk setiap jenis efek yang ditransaksikan dan untuk menerima atau membayar untuk seluruh efek yang ditransaksikan.
3.      Positioning
Pengecekan posisi efek dan uang pada rekening efek terhadap posisi kewajiban dan hak Anggota Kliring dengan hasil netting.
4.      Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa Dan Dana Jaminan
Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa adalah kewajiban KPEI untuk seketika dan langsung mengambilalih tanggung jawab AK yang gagal memenuhi kewajibannya berkaitan dengan penyelesaian Transaksi Bursa dan untuk menyelesaikan transaksi tersebut pada waktu dan cara yang sama sebagaimana diwajibkan kepada AK ybs.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar