Minggu, 05 Agustus 2012

SEJARAH DESA KAMPUNG GELGEL


  1.      I.        Orientasi
Sedikit orang tahu bahwa meski dikenal sebagai pulau Dewata,  tetapi Bali sebenarnya menyimpan khasanah keislaman yang terhitung luar biasa.  Di seluruh pelosok negeri yang mayoritas Hindu itu,  terselip berbagai kampung Muslim yang berumur sangat tua dengan segala kultur yang ikut mewarnai sejarah negeri itu. Sejumlah komunitas Muslim di Bali antara lain tersebar di Banjar Saren Jawa di wilayah Desa Budakeling (Karangasem), Desa Kampung Gelgel (Klungkung), Kepaon, Serangan (Kota Denpasar), Pegayaman (Buleleng) dan Loloan (Jembrana).

Desa Kampung Gelgel terletak di Kecamatan karangasem, kabupaten Klungkung, Bali. Desa Kampung Gelgel dulu merupakan pusat pemerintahan dari kerajaan Klungkung yang penduduknya memeluk agama Islam.  Desa Kampung Gelgel memiliki daerah wilayah yang sempit, selain itu ada sebuah pura hindu yang berada ditengah-tengah pemukiman masyarakat Desa Kampung Gelgel yang mayoritas beragama Islam.


Desa kampung gelgel walaupun wilayahnya sempit tapi memiliki sistem perekonomiannya sendiri. Penduduk kampung ini  menurut Kepala Kampung Gelgel,  kini (tahun 2011) berjumlah 286 KK.  Mereka dahulunya petani dan pemelihara kuda/dokar, tetapi seiring perkembangan Pariwisata Bali mereka beralih ke usaha konveksi seperti  pakaian, kerajinan daun lontar yang antara lain berisi kaligrafi, bahkan menjadi penyuplai utama pasar Seni Sukawati yang sangat tersohor bagi para wisatawan.


  1.    II.        Sejarah Masuknya Islam di Gelgel
a.   Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460 M)
Kedatangan muslim generasi pelopor ini dilakukan orang Jawa di era Dalem Ketut Ngelesir berkuasa di Bali (1380-1460 M).  Sebagai wilayah taklukan Majapahit  Dalem Ketut Ngelesir memang mengadakan kunjungan ke Majapahit, ketika Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara di awal 1380 an. Ketika kembali ke Gelgel  Dalem Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring.  Keempat puluh orang pengawal itu ternyata semua beragama Islam, serta akhirnya menetap bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel serta  menempati satu wilayah di Gelgel.  Alasan kenapa 40 pengiring yang ditugaskan Majapahit semua dipilih orang Islam masih belum diketahui?,  walaupun mayoritas penduduk Majapahit waktu itu mayoritas beragama Hindu.  Hal yang sudah pasti adalah para pengiring itu lantas mendirikan sebuah masjid, sekaligus menandai sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. Masjid yang kini bernama Masjid Nurul Huda kini terletak di pinggir jalan raya.  Sayang sekali tempat ibadah peninggalan muslim Bali generasi pertama itu kini sama sekali tak meninggalkan ciri-ciri era kelampauan  pada bentuk bangunannya.

b.    Waturenggong (1460-1550 M)
Ketika Waturenggong (1460-1550) menjadi penguasa Bali,  kekuatan Majapahit kian surut.  Bahkan,  sekitar tahun 1518, Demak yang dipimpin oleh Raden Patah (yang tak lain putra Brawijaya V) dengan berbagai alasan politik  akhirnya menaklukkan Majapahit.

Berikutnya,  di era Demak inilah ekspedisi silaturahmi dari kerajaan Islam Demak datang ke Gelgel, Klungkung yang kala itu dipimpin Watu Renggong.  Ekspedisi damai  ini secara permukaan bertujuan untuk menjalin hubungan sebagai sesama mantan taklukan Majapahit, sama-sama memiliki darah Majapahit.  Namun,  inti tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam. Tampaknya Watu Renggong tidak berkenan terhadap Islam. Penolakan Waturenggong memang tidak dilakukan secara frontal, karena: 
·         Pertama,  hubungan Muslim dan penguasa Bali  tidak ada problem bahkan telah  dicontohkan oleh Ketut Ngelesir melalui 40 pengiring muslimnya yang setia. 
·         Kedua,  Watu Renggong tidak ingin membangun hubungan negatif dengan penguasa Demak.
·         Ketiga,  justru karena pengakhiran Majapahit era Brawijaya VII oleh Demak telah mengukuhkan Bali dari status vassal Majapahit  serta menjadi kerajaan merdeka.

c.    Pendapat C.C. Bergh
Berdasar sumber C.C. Bergh diketahui bahwa utusan (yang menghadap Waturenggong) datang dari Mekah. Ekspedisi 100 orang ini dipimpin Dewi Fatimah.   Kala itu Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi untuk mengadu kesaktian.  Watu Renggong bersedia disunat (dipotong kulup kelaminnya sebagai salah satu tanda keislaman)  asalkan Fatimah mampu memotong bulu kakinya.   Ternyata, Fatimah gagal melakukan yang berarti Waturenggong sebagai pemenang. Fatimah akhirnya dihukum mati (dengan cara membunuh dirinya) dengan tikaman keris. Mayat Dewi Fatimah lantas  dikuburkan di Desa Satra sekitar 3 km selatan Klungkung atau 1,5 km barat daya Gelgel. Hingga sekarang lokasi kuburan Dewi Fatimah itu dikenal dengan Sema Jarat atau Sema Pajaratan.  Jarat merujuk nama Gujarat India, dimana para saudagarnya sangat berjasa dalam pengislaman di tanah air,  sehingga hampir setiap orang Islam juga dinisbahkan dengan Gujarat. Kuburan itu terletak tepat disamping sungai dan sempat terkena banjir bandang,  sehingga pekuburan terseret banjir dan hilang bekas-bekasnya.    Bahkan,  Tanah Jarat –bekas tanah makam leluhur—itu, menurut kepala Kampung Gelgel,  akhirnya dijual kepada orang Hindu yang tinggal di desa Satra,  dan hasil penjualan akhirnya dibelikan tanah untuk membangun madrasah di kampung Gelgel.

Dengan tidak dibunuh tetapi dihukum bunuh diri atas Fatimah,  Watu Renggong punya tujuan strategis agar tidak menimbulkan konflik bersenjata antara Gelgel  melawan Demak yang telah terbukti berhasil mengalahkan kerajaan besar Majapahit.  Oleh sebab alasan itu pula,  meskipun Waturenggong tak mau menjadi Muslim,  tetapi anggota ekspedisi tidak diusir. Kaum muslim itu akhirnya bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel 40 pengiring Muslim di era Dalem Ketut Pengelesiran. Mereka lantas menikah dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas muslim Bali.

  1.   III.        Kehidupan Masyarakat Gelgel Setelah Masuknya Islam
Meski semangat membendung Islam sangat kuat menggejala dalam benak Raja Bali dan Penasehatnya,  tetapi komunitas Muslim Gelgel tetap hidup aman.  Kepada mereka diberikan sebidang tanah di pesisir pantai  sekitar Gelgel, bahkan ditambah lagi dengan kampung Jawa dan kampung Lebah seiring dengan membengkaknya jumlah umat Islam.  Ketiga kampung ini memang spesial diberi oleh Puri lengkap dengan kuburan Muslimnya. Dapat dipahami jika kampung Muslim tadi,  menurut kepala desa Kampung  Gelgel,  sekarang memiliki status kepemilikan dengan sertifikat. Padahal kaum Hindu disekitar komunitas kampung Muslim justru hanya memiliki status tanah Magersari Puri, sebagai pekarangan  desa atau meminjam/hak pakai saja  meski untuk waktu selamanya.

Kaum Muslim di ketiga wilayah itu mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya tetapi tetap bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang Hindu dalam pergaulan akrab dan saling menolong. Keharmonisan historis antar komunitas ini dapat dilihat misalnya dari realitas adanya Pura di samping makam leluhur  Umat Islam yang biasa disebut Sema Jarat. Sebagai penghormatan Pura terhadap Kuburan tokoh-tokoh Islam itu,  pura sejak dahulu melarang dua hal:  membawa sesajian daging babi dan melakukan upacara sabung ayam/tajen/tumpah getih,  dua hal yang memang Sangat dilarang dalam Islam.

”Tradisi di Pura itu bahkan telah berubah menjadi kepercayaan di kalangan Hindu Gelgel bahwa pelanggaran terhadap aturan leluhur ini dipercaya dapat membawa sial. Oleh sebab itu,  aturan tersebut dipegang kokoh sampai kini”.

  1.  IV.        Alkulturasi Budaya dan Peninggalan
Desa Kampung gelgel memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah akan tetapi sayangnya banyak benda-benda bersejarah itu disimpan di musium Belanda. Saat penjajahan Belanda, benda-benda bersejarah itu dibawa kesana oleh Belanda. Pada saat ulang tahun Kabupaten Klungkung yang ke 100, Pemerintah setempat berusaha untuk membawa kembali benda-benda bersejarah itu, akan tetapi Pemerintah setempat harus membayar uang Rp 3 miliar hanya untuk meminjam tombak selama 3 hari saja. Adapun benda-benda bersejarah yang masih tersisah di Desa kampung Gelgel sebagai berikut :

a.    Masjid Nurul Huda
Masjid Nurul Huda adalah nama masjid tertua di bali yang terletak di Desa Kampung Gelgel didirikan oleh para pengawal dari kerajaan Majapahit yang mengiring raja Klungkung saat kembali ke Bali. Masjid ini terletak dipinggir jalan raya disebelah kantor desa.
Gambar : Masjid Nurul Huda

b.    Babad
Babad merupakan teks yang berisi sejarah dari suatu kerajaan. Babad adalah salah satu bukti tulis tentang sejarah Gelgel. .

c.    Tari Rudat
Tari Rudat adalah tarian tradisional dari Desa kampung Gelgel. Tarian ini biasa dipentaskan pada saat hari-hari besar seperti pada saat ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Biasanya orang-orang berlatih  di depan masjid Nurul Huda.

d.    Pintu Menara
Pintu menara masjid ini adalah salah satu yang masih dipertahankan dari bentuk Masjid Nurul Huda. Bentuk bukti alkulturasi budaya, terlihat dari ukiran-ukiran pintu menara ini.
Gambar : Pintu Menara Masjid Nurul Huda

e.    Mimbar
Selain pintu menara, mimbar yang berada didalam masjid ini juga masih dipertahaankan dari mesjid ini. Keunikan dari mimbar ini adalah bentuk dan ukiran-ukirannya.
Gambar : Mimbar Masjid Nurul Huda

f.     Makam Kuno
Sebagai komunitas Kampung Islam tertua di Bali, Desa Kampung Gelgel juga memiliki makam kuno. Ada beberapa makam kuno yang ada diDesa Kampung Gelgel diperkirakan makam yang paling tua itu dari tahun 1482 M.

2 komentar:

  1. http://majelisnurulfata1.blogspot.com/
    kunjungin blog saya yah makasih dah kunjung blog saya dan d ikuti

    BalasHapus
  2. OKEEEE....sama - sama saling mengunjungi yaaahhh :)

    BalasHapus